Prioritastv.com, Tanggamus, Lampung – Sulitnya hasil tangkapan ikan dan terbatasnya akses terhadap bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi menjadi keluhan utama nelayan jaring tradisional di wilayah Kapuran, Pasar Madang, Kota Agung, Kabupaten Tanggamus. Kondisi ini membuat para nelayan berharap adanya perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tanggamus.
Dalam beberapa waktu terakhir, nelayan mengaku semakin kesulitan mendapatkan ikan. Selain dipengaruhi cuaca buruk dengan ombak dan gelombang besar, ikan juga disebut jarang masuk ke perairan Teluk Semaka.
Akibatnya, sebagian nelayan terpaksa beralih menangkap cumi-cumi untuk tetap memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Namun, hasil yang diperoleh tidak menentu sehingga pendapatan nelayan tetap tidak stabil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Jasmani, salah satu nelayan jaring, mengatakan bahwa saat ini tangkapan ikan mengalami penurunan drastis. “Biasanya kami menangkap ikan dengan jaring, tapi sekarang sulit. Jadi sementara kami beralih memancing cumi-cumi. Hasilnya bisa mencapai 10 kilogram atau sekitar 300 ekor, tapi kadang juga tidak dapat,” kata Jasmani, Jumat 24 April 2026.
Ia menambahkan, harga cumi-cumi saat ini berkisar antara Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram. Meski demikian, hasil tangkapan yang tidak menentu membuat penghasilan nelayan tetap pas-pasan.
Selain itu, nelayan juga menghadapi kendala dalam mendapatkan BBM bersubsidi. Mereka tidak dapat membeli langsung di SPBU, sehingga terpaksa membeli dari kios eceran dengan harga yang lebih tinggi.
“Kalau bisa kami ingin membeli langsung BBM di SPBU, jangan harus lewat pengecer. Karena sering kali kami kesulitan mendapatkannya,” keluh Jasmani.
BACA JUGA : Kadis Perikanan Tanggamus Respons Keluhan Nelayan: BBM hingga Bantuan Alat Tangkap Segera Ditindaklanjuti.
Hal senada disampaikan Kholik, nelayan lainnya. Ia menuturkan bahwa kondisi saat ini cukup memprihatinkan karena ikan sudah lama tidak masuk ke Teluk Semaka.
“Nelayan di Kapuran sekarang sangat terdampak, apalagi dengan kondisi ombak besar dan ikan yang sulit didapat,” katanya.
Menurut Kholik, nelayan kini harus pintar mencari cara agar tetap bertahan di tengah penghasilan yang tidak menentu serta sulitnya mendapatkan BBM bersubsidi.
Ia juga berharap adanya perhatian dari Pemerintah Kabupaten Tanggamus, khususnya dalam penyediaan sarana dan prasarana penunjang bagi nelayan kecil.
“Kami tidak muluk-muluk, berharap ada bantuan seperti alat tangkap jaring dan kemudahan akses BBM. Itu sangat membantu nelayan kecil seperti kami,” ungkapnya.
Kholik menambahkan bahwa alat tangkap jaring merupakan kebutuhan utama bagi nelayan, namun ketersediaannya tidak selalu mudah didapat dan kualitasnya pun tidak selalu baik.
“Kami kadang membeli jaring secara online, tapi kualitasnya tidak pasti. Kalau rusak, biaya perbaikannya cukup mahal,” tutupnya.
Para nelayan berharap pemerintah daerah dapat segera memberikan solusi konkret guna membantu keberlangsungan usaha mereka di tengah kondisi yang semakin sulit. (*)









