Prioritastv.com, Tanggamus, Lampung – Setiap 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan. Namun, sudahkah kita mengenal pahlawan lokal dari daerah masing-masing? Di Kabupaten Tanggamus, Lampung, nama Batin Mangunang kini diabadikan sebagai nama rumah sakit daerah.
Tetapi siapakah sebenarnya Batin Mangunang, bagaimana perjuangannya, dan mengapa ia dianggap pahlawan?
Diskusi itu muncul disebuah group Portal Tanggamus sebagai ulasan moment hari Pahlawan dan sebagai pengingat perjuangan Pahlawan asal Kabupaten Tanggamus tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dikutip dari berbagai sumber, bahwa Batin Mangunang melawan kolonial Belanda dengan strategi perlawanan heroik dan membanggakan.
Perjuangan Besar Batin Mangunang Melawan Kolonial Belanda
Batin Mangunang merupakan sosok pejuang yang gigih melawan pendudukan Belanda. Berbeda dengan Radin Inten II yang lebih dikenal secara nasional, nama Batin Mangunang mungkin belum sepopuler itu. Namun, kontribusinya dalam mempertahankan tanah Tanggamus patut diingat dan dihargai.
Perjuangan Batin Mangunang berawal dari Kota Agung, Tanggamus, pada tahun 1832. Menurut Buku “Sejarah Perlawanan terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Daerah Lampung” (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1993), nama Batin Mangunang bukanlah nama asli, melainkan gelar. “Batin” berarti kepala adat, sementara “Mangunang” menunjukkan ketenaran.
Batin Mangunang berasal dari Marga Buay Nyatta di Kota Agung, Tanggamus. Ia memiliki garis keturunan dari Raja Kiang Negara, seorang tokoh Krui. Saat kecil, Batin Mangunang bernama Sabit dan saat menjabat sebagai kepala marga, ia dikenal dengan gelar Dalom Urak Belang karena tanda belang di lehernya.
Perlawanan Batin Mangunang dipicu oleh keinginannya mempertahankan tanah leluhurnya dari cengkeraman Belanda. Pertempuran dimulai di Teluk Semangka, Tanggamus. Bersama kepala kampung di Telukbetung dan Semangka, ia menggalang kekuatan untuk menyerang pertahanan Belanda di Telukbetung. Pada Januari 1828, pasukannya berkumpul di Muton, dekat Teluk Lampung, untuk melakukan serangan.
Pasukan Belanda, yang mengirim 32 orang untuk menyelidiki kedudukan Batin Mangunang, dikejutkan oleh serangan pasukan lokal yang jauh lebih banyak. Pasukan Belanda terpaksa mundur ke Telukbetung setelah menghadapi serangan tersebut.
Strategi Perlawanan dan Serangan Balik Belanda
Pada 27 Agustus 1831, Belanda kembali mengirim ekspedisi militer ke Teluk Semangka yang dipimpin oleh Kapten Hoffman. Dalam pertemuan dengan kepala-kepala marga, Belanda berusaha menangkap Dalem Sangun Ratu dari Benawang dan Batin Mangunang. Karena tidak berhasil, mereka membawa beberapa kepala marga yang hadir ke Batavia, menimbulkan perlawanan lebih lanjut dari masyarakat setempat.
Pertempuran sengit pun terjadi di benteng pertahanan Batin Mangunang di Taratas Bombay pada 9 September 1832. Pasukan Batin Mangunang menyergap pasukan Belanda, melukai dan menewaskan sejumlah perwira Belanda, termasuk melukai Kapten Hoffman.
Warisan Perjuangan Batin Mangunang
Meskipun benteng Taratas Bombay akhirnya jatuh ke tangan Belanda, perlawanan Batin Mangunang terus berlanjut hingga akhir hayatnya. Ia dimakamkan di Tambak Balak, Kota Agung, dan perjuangannya dilanjutkan oleh anaknya, Mangku Negara.
Sebagai penghormatan atas jasanya, nama Batin Mangunang diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Daerah di Kota Agung, Tanggamus, serta menjadi nama jalan di daerah Segala Mider, Bandar Lampung. Semangat juang dan dedikasi Batin Mangunang dalam mempertahankan tanah air dari penjajahan merupakan bagian penting dari sejarah Lampung yang perlu terus dikenang. (Herdi)







