Prioritastv.com, Tanggamus, Lampung – Pemerintah Kabupaten Tanggamus melalui Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DKPTPH) memperkuat langkah mitigasi kekeringan di sektor pertanian guna mengantisipasi potensi fenomena El Nino pada tahun 2026.
Upaya tersebut dilakukan melalui monitoring dan evaluasi (monev) di sejumlah wilayah rawan kekeringan, terutama kecamatan dengan lahan persawahan tadah hujan yang sangat bergantung pada curah hujan.
Sekretaris DKPTPH Tanggamus, Rahmat Hidayat, mewakili Kepala Dinas Alkat Alamsyah, menyampaikan bahwa pihaknya mengoptimalkan penggunaan pompa air (pompanisasi) yang telah disalurkan kepada kelompok tani (Gapoktan) pada tahun 2024–2025. Selain itu, perbaikan jaringan irigasi juga terus diupayakan di wilayah yang berpotensi terdampak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Yang menjadi kekhawatiran adalah lahan sawah tadah hujan, karena sepenuhnya bergantung pada curah hujan. Jika curah hujan rendah, maka risiko gagal panen akan tinggi. Ini yang kita antisipasi dengan memaksimalkan pompa air dari sumber air terdekat seperti sungai,” kata Rahmat, Rabu (29/4/2026).
Ia juga menegaskan pentingnya pengecekan kondisi jaringan irigasi pertanian di berbagai wilayah. Sejumlah titik irigasi saat ini tengah diusulkan untuk mendapatkan bantuan perbaikan dari pemerintah pusat.
Beberapa wilayah yang dinilai berpotensi terdampak signifikan di antaranya Kecamatan Pematang Sawa, Bulok, Pugung, hingga Kelumbayan. Menurut Rahmat, karakteristik lahan di tiap kecamatan berbeda, tidak semuanya berupa hamparan sawah luas, melainkan juga terdapat area pertanian berbentuk spot-spot atau boloran.
“Untuk wilayah seperti Kelumbayan, mayoritas merupakan sawah tadah hujan. Sementara spot-spot pertanian hampir tersebar di seluruh kecamatan di Tanggamus,” jelasnya.
Ia menyebut, komoditas yang paling terdampak adalah padi, mengingat kebutuhan air yang tinggi. Sementara jagung dinilai lebih tahan terhadap kondisi kekeringan, meski hasil produksinya bisa menurun.
Selain pompanisasi, DKPTPH Tanggamus juga mengusulkan perbaikan irigasi tersier ke pemerintah pusat. Irigasi tersier merupakan saluran akhir yang mendistribusikan air langsung ke lahan pertanian.
“Mudah-mudahan usulan perbaikan irigasi ini dapat segera terealisasi, sehingga dampak El Niño terhadap petani tidak terlalu signifikan,” pungkasnya. (*)









