Prioritastv.com, Tanggamus, Lampung – Polisi telah memberikan keterangan resmi dan melakukan langkah terkait pemukulan oleh kelompok pemuda terhadap penggiat Tambling Wildlife Nature Concervation (TWNC-Lampung) di Pekon Martanda Kecamatan Pematang Sawah, Kabupaten Tanggamus, Lampung, Selasa malam, 13 Februari 2024.
Menurut Kapolres Tanggamus AKBP Rinaldo Aser, bahwa terkait dengan pemberitaan tersebut, pihaknya langsung melakukan langkah pengamanan di TKP tersebut dengan memberdayakan personel yang sedang melakukan PAM TPS disana.
“Patut diketahui pula bahwa jarak antara lokasi kejadian dengan kota agung, kab. Tanggamus memakan waktu 4 jam dengan menggunakan kapal laut,” kata AKBP Rinaldo Aser, Kamis 15 Februari 2024.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kapolres menyebut bahwa, personel Polres pada saat itu juga menghimbau agar antara kedua belah pihak dapat menahan diri dan kedua belah pihak pasca kejadian telah melakukan mediasi.
“Salah satu pointnya yakni para karyawan dijamin keamanannya ketika akan melakukan pencoblosan.Untuk karyawan yang mengalami luka-luka saat ini sudah mendapat perawatan,” jelasnya.
Kapolres menambahkan, terkait dengan laporan resmi mengenai kejadian ini sampai saat ini belum ada, akan tetapi pihak Polres Tanggamus melakukan upaya jemput bola untuk membuat laporan polisi mengenai kejadian ini.
“Personel Polres Tanggamus dengan dibantu Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda lampung sendiri saat ini sudah menuju lokasi kejadian,” tandasnya.
Sebelumnya diberitakan, sebelumnya diberitakan, jelang pencoblosan Pemilu 2024, Kelompok massa menyerang pegiat konservasi Tambling Wildlife Nature Concervation (TWNC-Lampung) atau biasa disebut SGA di Desa Martanda, Pematang Sawah, Kabupaten Tanggamus, Lampung, Selasa malam, 13 Februari 2024.
Informasi yang dihimpun, penyerangan berawal paska pemotor bernama Aldi Yusuf melintas di jalan setempat mengendarai sepeda motor dengan suara bising di wilayah pemukiman warga yang saat itu kelompok SGA TNWK berkumpul diduga sedang minum-minuman keras.
Salah satu personel SGA TNWK yang menjadi korban berinisal J kemudian mengejar pemotor tersebut sehigga menabrak bagian belakang motor, hingga membuat Aldi Yusuf mengalami lecet.
Saat rekan-rekan J datang menyusul Aldi Yusuf telah meminta maaf, namun ada kalimat yang membuat Aldi merasa tersinggung sehingga melaporkan kejadian tersebut kepada warga lainnya.
Berdasarkan rekaman suara personel SGA TNWK, sebelum kejadian. Personel tersebut menyebutkan bahwa sepeda motornya memang tidak memiliki rem sehingga menabrak Aldi Yusuf.
“Motor saya remnya blong, motor yang saya tabrak kalopun ada yang rusak, saya dandan saya yang bertanggungjawab,” kata J sebelum kejadian pemukulan oleh massa.
Kakon Tampang Muda, Hamid kepada Media Prioritastv.com, Kamis 15 Februari 2024 menyebut paska kejadian keributan antara warga dengan penggiat TNWC SGA, situasi kini telah kondusif di wilayah Pekon Martanda, Pematang Sawa, Tanggamus.
Kedepannya, Sabtu esok, tokoh-tokoh dari empat pekon dan SGA akan melakukan mediasi untuk menyelesaikan perselisihan yang terjadi yang akan dihadiri perwakilan dari berbagai kalangan, termasuk tokoh pemuda, tokoh adat, nelayan, dan lain-lain.
“Kesepakatan waktu itu (paska kejadian), kita akan mediasi dengan perusahaan TWNC sama warga masyarakat, tampang muda, tampang tua, martanda dan kaur gading esok Sabtu. (perwakilan tokoh pemuda, tokoh adat, nelayan dan lain-lain),” kata Hamid.
Kakon Hamid menjelaskan, bahwa kronologi kejadian menurut pihak SGA TNWC mereka merasa terganggu oleh 2 warga yang menggeber motor saat mereka (SGA) sedang berkumpul.
Awalnya, sejumlah individu dari pihak SGA (5 orang) mengejar 2 warga (pemotor) sehingga terjadi ribut mulut. Warga disini merasa tidak terima kemudian warga tersebut balik mengejar. Namun, SGA memilih untuk masuk ke dalam rumah.
“Ya itu keributan antar warga dengan SGA, namun kita tidak tahu persis dari awal, tiba-tiba ada keributan dan kita kesana. Setelah kejadian dilokasi ada oleh aparat pekon dan anggota keamanan TPS yang hadir di lokasi,” jelas Hamid.
Kakon menambahkan bahwa walaupun ada informasi berita yang tidak sesuai sehingga membuat warga gusar, namun kondisi saat ini telah stabil dan warga beraktifitas seperti biasa.
“Sekarang sudah kondusif, walaupun tadi bagi setelah melihat berita warga agak gusar (karna tidak sesuai) tetapi sudah kita redam,” tegasnya.
Diharapkan dengan mediasi kedepan dapat menemukan titik temu untuk menyelesaikan konflik tersebut dan mengembalikan kedamaian di wilayah setempat. (Sungatno)








