Prioritastv.com, Pringsewu, Lampung – Kepala Cabang Dinas (Kacabdin) Wilayah II, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Drs. Sunardi, M.Pd, angkat bicara mengenai polemik biaya mahal kunjungan industri yang direncanakan oleh SMK Maarif Banyumas. Sunardi menegaskan bahwa program kunjungan industri ini tidak bersifat wajib bagi seluruh siswa kelas 11.
“Program kunjungan ini adalah bentuk penguatan kompetensi siswa sesuai dengan jurusan mereka. Dengan kunjungan industri, siswa diharapkan mendapatkan pemahaman tentang uji kompetensi yang akan dihadapi di kelas 12 nanti,” kata Sunardi dalam klarifikasinya.
Sunardi juga menjelaskan bahwa sekolah memberikan kelonggaran bagi orang tua yang keberatan dengan biaya. “Tidak ada paksaan mengenai biaya. Sekolah memberikan opsi keringanan bagi yang merasa keberatan, dan siswa yang tidak ingin ikut pun diperbolehkan,” tambahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Terkait perizinan, Sunardi menekankan bahwa seluruh proses harus dilakukan secara lengkap dan ketat. “Semua perizinan harus ada, mulai dari izin orang tua, Polres, hingga surat izin dari dinas pendidikan. Kami juga mensyaratkan sertifikat bebas narkoba untuk kru bus dan sopir. Semua persyaratan harus dipenuhi agar kegiatan ini berjalan dengan aman,” jelasnya.
Dengan aturan yang ketat dan prosedur yang sudah diatur, Sunardi berharap program ini bisa berjalan lancar tanpa menimbulkan polemik. “Kami sudah memberikan solusi terbaik agar semua pihak merasa nyaman dan program tetap berjalan sesuai rencana,” pungkasnya.
Kunjungan Industri SMK Maarif Banyumas Jadi Sorotan
Sebelumnya, rencana kunjungan industri oleh SMK Maarif Kecamatan Banyumas, Kabupaten Pringsewu, menjadi bahan perbincangan para orang tua siswa. Kunjungan yang dijadwalkan pada 5 hingga 8 Januari 2025 itu rencananya akan membawa siswa ke Lampung, Jakarta, dan Bandung, dengan biaya sebesar Rp1.675.000 per siswa.
Sebagian orang tua murid menyambut baik kunjungan industri ini sebagai peluang bagi anak-anak mereka untuk mengenal dunia industri lebih luas. Namun, ada juga yang mengkritisi rencana tersebut, menganggap biaya yang dibebankan terlalu tinggi, dan mempertanyakan manfaat serta keamanan dari perjalanan jarak jauh ini.
SR, salah satu orang tua siswa, menyatakan kekecewaannya terkait destinasi kunjungan industri yang dianggap terlalu jauh. “Industri di Lampung sudah banyak. Kalau tujuannya untuk kunjungan industri, kenapa harus sampai ke Jakarta dan Bandung?” ungkapnya dalam wawancara pada Jumat, 30 Agustus 2024. (Davit)







