Prioritastv.com, Pringsewu, Lampung — Suara jeritan para petani menggema dari Pekon Podomoro, Kecamatan Pringsewu, Kabupaten Pringsewu, Selasa 13 Mei 2025.
Sebuah video pendek yang beredar di media sosial memperlihatkan warga sekitar secara swadaya menutup Bendungan Widoro Payung yang jebol menggunakan karung berisi tanah, demi mengalirkan air ke sawah-sawah mereka yang mengering.
Video berdurasi 1 menit 4 detik itu diunggah oleh akun Uyunk Arifia, memperlihatkan warga bergotong-royong di bawah terik matahari, mengisi karung dengan tanah dan menyusunnya di jalur air yang rusak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam video tersebut terdengar suara seorang pria yang mengungkapkan kekecewaannya terhadap lambannya respon pemerintah daerah.
“Oke sekarang kita berada di Bendungan Widoro Payung yang lagi kena musibah, jebol bendungannya,” ucapnya.
“Pak Bupati, tolong nih warganya jangan dibiarin. Masa kita kayak gini dibiarin. Tolong, pak. Ini masyarakat Podomoro lagi pada berjuang biar bisa tanam.”
Mereka mendesak pemerintah kabupaten, camat, hingga dinas terkait untuk segera mengirimkan alat berat guna mempercepat perbaikan bendungan.
Mobil operasional disebut telah standby, namun alat berat yang dibutuhkan belum juga dikirimkan ke lokasi.
Uyunk Arifia, warga setempat, membenarkan bahwa kerusakan pada bendungan sudah terjadi sejak sebelum bulan puasa.
Ia mengaku bahwa Bupati Pringsewu sempat meninjau lokasi, namun hingga kini belum ada tindak lanjut nyata.
“Sempat ditinjau Bupati. Tapi belum ada tindakan. Sementara sawah-sawah di sekitar bendungan kekeringan. Petani lain sudah mulai bajak sawah, kami belum bisa karena nggak ada air,” kata Uyunk saat dikonfirmasi.
Kini, warga hanya bisa berharap agar hujan deras tidak kembali datang dan memperparah kondisi. Mereka meminta agar pemerintah berhenti memberi janji dan segera turun tangan.
“Tolong… Jangan buat kami iri dengan warga Jabar. Kami juga butuh keadilan,” tulis Uyunk dalam unggahan tersebut.
Musim tanam yang seharusnya menjadi harapan bagi kehidupan mereka justru berubah menjadi kekhawatiran, sementara para petani terus berjibaku dengan kondisi alam dan ketiadaan perhatian dari pemerintah. (Davit)







