Prioritastv.com, Pringsewu – Harapan para mantan karyawan Cafe & Resto Ummika untuk mendapatkan keadilan dari hasil sidak Komisi IV DPRD Pringsewu tampaknya harus ditelan bulat-bulat.
Yang mereka saksikan bukan aksi tegas lembaga wakil rakyat, melainkan kunjungan penuh basa-basi yang berakhir dengan dokumentasi manis tanpa substansi.
“Saya kecewa berat. Ini bukan sidak, ini kayak tamu kehormatan yang datang terus selfie, lalu pulang,” kata LU, salah satu mantan karyawan yang angkat bicara usai sidak Jumat (16/5/2025) lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut LU, sidak tersebut gagal total mengurai akar persoalan. Tidak ada pernyataan keras terhadap dugaan penahanan KTP, eksploitasi kerja, keterlambatan gaji, atau sistem kerja yang diduga melanggar hak asasi. Malah, owner diberikan waktu “tiga bulan untuk melengkapi perizinan”. Sementara korban-korban yang sudah bersuara, seolah hanya angin lalu.
“Kita minta kasus ini diusut lebih dalam dan lanjut. Jangan cuma jadi berita seminggu terus hilang kayak enggak pernah ada apa-apa,” tegas LU.
Kritik juga datang dari AG, mantan karyawan lain yang sebelumnya menyampaikan bahwa mereka sempat dipaksa kerja di bawah tekanan verbal dan sistem kerja tak manusiawi.
“Kita udah ngasih kesaksian, tapi malah dibilang sepihak. Owner diminta lengkapi izin, tapi hak kami kayak dilupakan. Sidak kemarin cuma nyakitin korban lebih dalam,” ujarnya.
LU menambahkan bahwa kondisi kerja saat itu bahkan memaksa mereka makan makanan bekas pelanggan secara diam-diam karena keterbatasan fasilitas dan tekanan ekonomi.
“Ngenes banget. Owner tahu, tapi yang diomongin malah soal ‘biar nggak ilfil pengunjung’. Bukannya dikasih makan layak,” kata LU.
Sementara itu, hingga kini belum ada pernyataan lanjutan dari pihak DPRD Pringsewu pasca kritik bertubi-tubi ini. Yang jelas, kekecewaan para mantan karyawan semakin membuncah. Mereka bukan hanya meminta keadilan mereka menuntut tanggung jawab. Bukan klarifikasi. Bukan basa-basi. Tapi keberanian berpihak pada yang benar. (Wan)







