Prioritastv.com, Lampung Selatan – Misteri jasad berjaket merah yang ditemukan mengambang di sungai Desa Haduyang, Kecamatan Natar, akhirnya terungkap. Sosok tersebut adalah Pandra Apriliandi (21), pegawai koperasi asal Gedung Ketapang, Lampung Utara yang sempat dilaporkan hilang sejak Minggu 27 Juli 2025.
Pandra diketahui terakhir bertugas menagih angsuran di wilayah Natar. Saat tak kunjung pulang dan tak bisa dihubungi, keluarganya melapor ke Polsek Natar. Laporan orang hilang pun teregistrasi dengan nomor LP/B-105/VII/2025.
Internal kepolisian mengungkap bahwa Pandra tewas dibunuh. Pelakunya diduga Salam, penjual somai yang kini sudah diamankan di Mapolda Lampung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Informasi yang dihimpun menyebut Salam membunuh Pandra dengan cara menjerat lehernya menggunakan tali.
Setelah korban tewas, jasadnya dibuang ke aliran sungai dekat kebun singkong di Desa Candimas—lokasi terakhir di mana Pandra terlihat.
“Tali jeratnya diduga sudah dipersiapkan sebelumnya. Keduanya juga sempat minum tuak bersama sebelum kejadian,” ungkap sumber di kepolisian.
Motif sementara yang mengemuka adalah masalah utang piutang. Pembunuhan ini diduga bukan spontan, melainkan sudah direncanakan.
Kabar penangkapan pelaku pertama kali mencuat di media sosial. Akun Facebook @SukmaAriSanjaya mengunggah foto Salam yang digiring ke Polsek.
“Alhamdulillah pelaku pembunuhan petugas koperasi Pandra Apriliadi berhasil ditangkap. Sudah paling benar dan bagus jualan somay, malah bertingkah menghilangkan nyawa orang,” tulis akun tersebut.
Foto yang diunggah menunjukkan Salam ditempel ketat oleh sejumlah polisi saat memasuki Polsek Natar.
Hingga berita ini diturunkan, Kabid Humas Polda Lampung Kombes Pol Yuni Iswandari Yuyun belum memberikan keterangan resmi. Namun sumber internal menyebut Salam kini sedang diperiksa intensif di Mapolda.
Kasus ini masih terus dikembangkan. Warga berharap penyidikan dilakukan secara transparan dan tuntas.
Kematian Pandra menyisakan duka mendalam. Ia dikenal sebagai pemuda pendiam dan pekerja keras.
“Dia itu anak baik. Nggak neko-neko. Kok bisa ya sampai tega dibunuh begitu?” ujar salah satu kerabat yang enggan disebutkan namanya. (Erwin)







