Sahabat yang Setia di Lembah, Tersisih di Puncak

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 17 Februari 2026 - 17:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Abid Bisara

Ada seseorang yang hadir bukan karena undangan, tapi karena panggilan hati. Ia datang saat dunia seolah runtuh, tapi sering menghilang dari ingatan saat semuanya kembali bersinar. Ia adalah sahabat yang selalu ada di saat sulit, namun kerap terabaikan di saat suka.

Mari kita sejenak berhenti dan bertanya pada hati, sudahkah kita menjadi sahabat yang baik? Atau jangan-jangan, kita hanya menjadikan sahabat sebagai “tempat sampah” keluh kesah, lalu melupakannya saat kebahagiaan datang?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hidup tak selalu berada di puncak. Ada masa-masa kita jatuh, terpuruk, dan merasa sendiri. Di saat-saat seperti itulah sahabat sejati muncul, bukan karena diminta, tapi karena hatinya yang peka.

Sahabat adalah orang yang menerima telepon kita di tengah malam, meski esok harus bangun pagi. Ia tidak pernah menghitung berapa kali kita mengganggu tidurnya, karena yang terhitung hanya satu, bahwa kita sedang terluka dan butuh sandaran.

Ia adalah orang yang datang tanpa diminta saat mendengar kabar duka. Tak perlu kode atau pemberitahuan, insting pertemanannya sudah bekerja lebih cepat dari radar. Di tengah duka yang membungkam, ia hadir hanya untuk duduk diam di samping kita. Karena ia tahu, kadang yang paling dibutuhkan bukan kata-kata, melainkan kehadiran.

Sahabat adalah yang meminjamkan telinga tanpa menghakimi, saat dunia sibuk menghakimi kita. Saat semua orang pergi karena tak tahan dengan drama hidup kita, ia justru menguatkan. Saat kita merasa paling hancur, ia hadir dengan kalimat sederhana, “Aku di sini, kok.”

Di lembah kepedihan, sahabat adalah cahaya yang tak pernah padam. Ia tidak bertanya “apa yang bisa kubantu?” karena ia langsung bertindak. Ia tidak menghitung rugi waktu, tenaga, atau uang yang dikeluarkan untuk menolong. Karena baginya, melihat kita tersenyum lagi adalah keuntungan yang tak ternilai.

Namun, ada satu ironi yang sering terjadi. Ketika hidup mulai membaik, ketika masalah berlalu dan kebahagiaan datang, sahabat yang setia di masa sulit itu perlahan terlupakan.

Bukan karena niat jahat, tapi karena kita terlalu sibuk menikmati puncak yang baru dicapai. Sibuk dengan kesuksesan, sibuk dengan lingkaran pertemanan baru yang lebih “prestisius”, sibuk dengan hiruk-pikuk kebahagiaan yang menuntut perhatian penuh.

Baca Juga :  DPRD Pesisir Barat Sampaikan Ucapan Selamat Menjalankan Ramadhan 1447 H / 2026 M

Telepon yang dulu selalu diangkat, mulai tak terjawab. Pesan yang dulu dibalas cepat, kini berakhir centang biru tanpa kabar. Janji temu yang dulu diucapkan dengan hangat, perlahan menguap tanpa kepastian.

Ironisnya, sahabat yang setia itu tak pernah protes. Ia paham, atau setidaknya mencoba paham, bahwa kita sedang sibuk menikmati hasil jerih payah. Ia memaklumi ketika kita tak sempat membalas pesannya. Ia mengerti ketika undangan kita untuk merayakan kebahagiaan tak kunjung tiba.

Tapi diamnya bukan berarti ia tak merasa. Di balik senyum yang tetap terpasang, ada luka kecil yang mungkin tak akan pernah ia ungkapkan, “Apakah aku hanya diingat saat kau susah?”

Sahabat sejati bukanlah mereka yang selalu ada di feed Instagram kita. Bukan pula mereka yang paling sering muncul dalam foto-foto pesta. Sahabat sejati adalah mereka yang tahu persis wajah asli kita saat tanpa riasan, saat tanpa topeng kebahagiaan.

Merekalah yang pernah melihat kita menangis sejadi-jadinya, dan tetap memeluk meski air mata kita membasahi bajunya. Mereka yang pernah melihat sisi terkelam hidup kita, dan tetap memilih untuk bertahan. Mereka yang tahu semua kelemahan kita, tapi tak pernah sekalipun menggunakannya sebagai senjata.

Hubungan dengan sahabat sejati adalah hubungan yang tak perlu banyak kata untuk dimengerti. Ia tahu kapan harus datang, tahu kapan harus diam, dan tahu kapan harus berbicara. Kehadirannya adalah kenyamanan yang tak tergantikan, kepergiannya adalah kehampaan yang terasa nyata.

Sahabat sejati adalah tempat di mana kita bisa menjadi diri sendiri tanpa takut dihakimi. Tempat di mana kita bisa berbagi kebahagiaan tanpa khawatir dicemburui, dan berbagi kesedihan tanpa takut dianggap lemah.

Maka, di saat hening ini, mari bertanya pada diri sendiri, sudahkah saya menjadi sahabat yang baik? Sudahkah saya membalas kesetiaan sahabat yang hadir di masa sulitku dengan kebersamaan di masa sukaku?

Sudahkah saya mengucapkan terima kasih atas setiap doa yang ia panjatkan diam-diam untukku? Atau setidaknya, sudahkah saya bertanya kabarnya tanpa maksud meminta bantuan?

Sahabat yang setia di masa sulit adalah permata yang langka. Mereka tak mengharapkan imbalan materi, tak menagih hutang budi. Satu-satunya yang mereka inginkan mungkin sederhana: diingat. Diingat bahwa mereka pernah berarti, diingat bahwa mereka pernah menjadi bagian penting dari perjalanan hidup kita.

Baca Juga :  Sering Meresahkan Hingga Buka Celana, Pria Diduga ODGJ Diamankan Polisi di Area SD Kapuran Pasar Madang Tanggamus

Jika saat ini Anda membaca ini dan teringat pada seseorang sahabat lama yang dulu selalu ada di masa-masa terberat, tapi kini hanya sesekali muncul di linimasa, mungkin ini saat yang tepat untuk menghubunginya.

Tidak perlu alasan muluk. Kirim saja pesan sederhana, “Hai, lagi di mana? Kangen. Kita ketemu yuk.” Karena seringkali, sahabat sejati tak butuh penjelasan panjang. Ia hanya butuh tahu bahwa ia masih diingat.

Mungkin ia akan membalas dengan dingin di awal, karena luka kecil yang pernah ada belum sepenuhnya sembuh. Tapi percayalah, di balik dinginnya, ada hati yang menghangat karena tahu bahwa ia tidak dilupakan.

Atau mungkin ia akan langsung merespon dengan antusiasme yang sama seperti dulu, seolah tak pernah ada jarak waktu. Karena itulah sahabat sejati, ia tak pernah benar-benar pergi, hanya menunggu dipanggil kembali.

Hidup terlalu singkat untuk dipenuhi penyesalan. Jangan biarkan sahabat yang pernah setia menemani masa sulitmu hanya menjadi kenangan, apalagi menjadi orang asing yang dulu pernah berarti.

Ia yang hadir saat dunia menjauh, pantas mendapat tempat istimewa saat dunia kembali merangkul. Ia yang meminjamkan bahu saat kita lelah, pantas mendapat pelukan saat kita bahagia. Ia yang tak pernah lelah mendengar keluh kesah, pantas menjadi orang pertama yang mendengar kabar baik kita.

Karena pada akhirnya, kebahagiaan yang tidak dibagikan kepada mereka yang pernah menemani kita di masa sulit, akan terasa seperti panggung tanpa penonton. Mewah, tapi hampa.

Dan sahabat sejati, pada akhirnya, bukan hanya tentang siapa yang ada di saat susah. Tapi juga tentang siapa yang tetap kita ingat, saat semua yang susah telah berlalu.

Salam hangat untuk sahabat yang mungkin saat ini sedang kita abaikan. Semoga kita tidak terlambat menyadari betapa berharganya mereka.

“Sahabat sejati adalah mereka yang mengenal simpul-simpul terkelam dalam hidupmu, tapi tetap memilih untuk merajutnya menjadi kisah indah.”

Berita Terkait

Aksi Geng Motor di Pringsewu Bawa Klewang 1,6 Meter Viral, 8 Orang Ditangkap Polisi, Ini Identitasnya
Breaking News: Petani Ulu Belu Hilang di Kebun Ditemukan Meninggal di Sungai Pulau Panggung Tanggamus, Tinggalkan Satu Anak
Bupati Tanggamus Resmikan Jembatan Ulu Semong di Kecamatan Ulu Belu
Kesal Diprovokasi, Pemuda Air Naningan Lukai Remaja Pulau Pangung di Batu Tegi Tanggamus
Percikan Kompor Picu Kebakaran di Terminal Kota Agung Tanggamus, Satu Kios Nyaris Ludes
Anggota DPR-RI Sudin Serap Aspirasi Warga Metro Sambil Bagikan Sembako Ramadan
Video Viral, Bupati Tanggamus Tegaskan Tidak Ada Korupsi Proyek di Tanggamus, Netizen Beri Beragam Tanggapan
Diduga Lakukan Pungli di Jalinsum Tanggamus, Dua Remaja Diamankan Polisi
Berita ini 23 kali dibaca
Avatar photo

Raditya

Raditya adalah Wartawan yang aktif meliput peristiwa daerah, sosial, kriminal dan peristiwa dengan pendekatan jurnalistik yang faktual, objektif, dan bertanggung jawab sesuai Kode Etik Jurnalistik di Kota Metro Lampung.

Berita Terkait

Senin, 9 Maret 2026 - 22:46 WIB

Aksi Geng Motor di Pringsewu Bawa Klewang 1,6 Meter Viral, 8 Orang Ditangkap Polisi, Ini Identitasnya

Senin, 9 Maret 2026 - 22:20 WIB

Breaking News: Petani Ulu Belu Hilang di Kebun Ditemukan Meninggal di Sungai Pulau Panggung Tanggamus, Tinggalkan Satu Anak

Senin, 9 Maret 2026 - 22:11 WIB

Bupati Tanggamus Resmikan Jembatan Ulu Semong di Kecamatan Ulu Belu

Senin, 9 Maret 2026 - 21:36 WIB

Kesal Diprovokasi, Pemuda Air Naningan Lukai Remaja Pulau Pangung di Batu Tegi Tanggamus

Senin, 9 Maret 2026 - 18:52 WIB

Percikan Kompor Picu Kebakaran di Terminal Kota Agung Tanggamus, Satu Kios Nyaris Ludes

Berita Terbaru