Penjelasan Ilmiah Gempa Ulu Belu Tanggamus, PT PGE Hadirkan Pakar PVMBG-ESDM, Unila dan BPBD Jawab Keresahan Warga

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 28 Agustus 2026 - 00:10

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Jeffri Sembiring, Manajer Maintenance PT PGE saat memberikan keterangan pers usai sosialisasi para pakar gempa di Balai Pekon Ngarip, Ulu Belu, Tanggamus, Kamis 27 Agustus 2026 | Herdi/Media Prioritastv.com.

Jeffri Sembiring, Manajer Maintenance PT PGE saat memberikan keterangan pers usai sosialisasi para pakar gempa di Balai Pekon Ngarip, Ulu Belu, Tanggamus, Kamis 27 Agustus 2026 | Herdi/Media Prioritastv.com.

Prioritastv.com, Tanggamus, Lampung – Keresahan masyarakat terkait seringnya terjadi gempa bumi di Kecamatan Ulu Belu, Kabupaten Tanggamus, Lampung, mendapat jawaban melalui kegiatan Sosialisasi dan Diseminasi Kegempaan di Balai Pekon Ngarip, Kamis (27/8/2026).

Kegiatan tersebut digelar untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat sekaligus memberikan penjelasan secara ilmiah mengenai fenomena gempa yang belakangan terjadi di sejumlah wilayah Ulu Belu. Sejumlah pakar dan pihak terkait hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Yoga Era Pamitro dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM, Dosen Geofisika Universitas Lampung (Unila) Andi Kurniawan, perwakilan BMKG, BPBD Tanggamus, PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Ulubelu serta DPRD Tanggamus.

Salah satu isu yang menjadi perhatian masyarakat adalah dugaan adanya hubungan antara aktivitas pengeboran panas bumi PT PGE dengan gempa yang terjadi. Berdasarkan pemaparan dan kajian para ahli, tidak ditemukan hubungan signifikan antara aktivitas pengeboran geothermal dengan kejadian gempa di Ulu Belu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dosen Geofisika Universitas Lampung sekaligus tim peneliti gempa Ulu Belu, Andi Kurniawan, menjelaskan hasil kajian menunjukkan aktivitas pengeboran pada periode 2008 hingga 2016 tidak memiliki korelasi dengan peningkatan aktivitas kegempaan. Sementara peningkatan aktivitas gempa justru terlihat pada 2025 hingga 2026.

“Artinya, penyebabnya bukan hanya dari pengeboran. Ada aktivitas alami geologi yang sering terjadi di wilayah Ulu Belu,” kata Andi.

Menurutnya, terdapat sejumlah faktor alami yang memengaruhi aktivitas kegempaan di Ulu Belu, mulai dari pergerakan lempeng pada zona Megathrust Sunda, keberadaan sesar aktif, zona vulkanik, hingga struktur geologi yang dipengaruhi gempa masa lalu, termasuk gempa Liwa. Kondisi tersebut membuat wilayah Ulu Belu memiliki sensitivitas geologi terhadap aktivitas gempa.

Andi juga menjelaskan bahwa gempa yang terjadi di wilayah Ulu Belu termasuk jenis gempa swarm, yakni gempa yang berlangsung secara episodik. Aktivitasnya dapat meningkat dalam satu periode, kemudian berkurang atau bahkan tidak terjadi pada periode berikutnya.

Ia mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan waspada serta tidak mudah mempercayai informasi yang beredar tanpa melakukan pengecekan dari berbagai sumber.

“Masyarakat juga perlu meningkatkan pemahaman mengenai kegempaan dan langkah-langkah penyelamatan diri saat terjadi gempa,” tegasnya.

Sementara itu, Yoga Era Pamitro dari PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM menyampaikan, berdasarkan analisis data, sebaran gempa swarm yang terjadi berada cukup jauh dari lokasi operasional PT PGE Area Ulubelu.

“Dari data yang kami analisa, sebaran gempa bumi swarm yang terjadi cukup jauh dari lokasi operasional Pertamina Geothermal Energy Ulu Belu. Menurut hemat kami, gempa-gempa tersebut tidak mengindikasikan berhubungan dengan operasional PGE Ulu Belu,” jelas Yoga.

Yoga mengatakan, Ulu Belu memang berada di wilayah yang memiliki sesar aktif, khususnya berkaitan dengan Segmen Sesar Sumatra atau Sesar Semangko. Karena itu, masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan dan melakukan mitigasi, baik secara struktural maupun nonstruktural.

Ia mengungkapkan, gempa swarm umumnya memiliki magnitudo relatif kecil, berada di bawah magnitudo 5 dan dapat berkisar pada magnitudo 2 hingga 4. “Namun, keberadaan sesar aktif tetap harus menjadi perhatian karena potensi gempa yang lebih besar dapat terjadi pada jalur sesar aktif,” tandasnya.

Dari sisi pemerintah daerah, Iwan Junianto, S.T., M.Eng., Sekretaris BPBD Tanggamus yang mewakili Kalak BPBD Irvan Wahyudi, mengatakan hasil kajian dari Unila, BMKG dan Badan Geologi menunjukkan kesimpulan yang sejalan, yakni tidak ditemukan hubungan teknis yang signifikan antara aktivitas PGE dengan gempa swarm yang terjadi di Ulu Belu.

Ia menjelaskan, salah satu parameter yang dikaji adalah jarak antara sumber gempa dengan lokasi aktivitas pengeboran. Berdasarkan pemaparan, sumber gempa berada sekitar 2 hingga 13 kilometer dari lokasi aktivitas tersebut. Selain itu, dari sisi waktu, aktivitas pengeboran sebelumnya juga tidak menunjukkan korelasi dengan peningkatan kegempaan yang terjadi dalam dua tahun terakhir.

Iwan mengingatkan masyarakat bahwa Ulu Belu memang merupakan wilayah rawan gempa karena berada di kawasan yang dipengaruhi jalur sesar dan struktur geologi aktif. Karena itu, masyarakat tidak hanya perlu memahami penyebab gempa, tetapi juga mengetahui cara menyelamatkan diri.

Ia mengimbau masyarakat menerapkan langkah drop, cover, and hold on saat gempa terjadi. Masyarakat diminta segera merendahkan posisi tubuh, mencari tempat berlindung seperti di bawah meja yang kokoh, melindungi kepala, kemudian bertahan sampai guncangan benar-benar berhenti.

“Jangan begitu gempa langsung keluar. Khawatirnya malah jatuh atau terkena barang-barang yang jatuh. Yang penting lindungi kepala dulu,” tegaas Iwan.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi III DPRD Tanggamus, Piter Anderson, mengapresiasi kegiatan tersebut karena dinilai mampu menjawab keresahan masyarakat melalui penjelasan yang berbasis kajian ilmiah.

Menurut Piter, fenomena gempa di Ulu Belu merupakan fenomena alam dan tidak menunjukkan adanya hubungan dengan kegiatan produksi maupun pengeboran PT PGE. Meski demikian, masyarakat tetap diminta tidak panik dan meningkatkan kewaspadaan.

“Kami mendorong adanya fasilitas pendeteksi bencana, baik untuk gempa bumi maupun tanah longsor, sehingga pemantauan dapat dilakukan secara lebih optimal dan masyarakat memperoleh informasi yang cepat serta akurat,” harapnya.

Dari pihak PT PGE, Jeffri Sembiring, Manajer Maintenance PT PGE yang mewakili General Manager, mengatakan perusahaan memilih memberikan penjelasan berdasarkan kajian ilmiah untuk menjawab kekhawatiran masyarakat.

“Kita mencoba menyikapinya secara ilmiah. Kita tidak serta-merta menyangkal. Kita mengundang teman-teman dari Unila, khususnya geofisika, kemudian Badan Geologi, BMKG dan perwakilan lainnya untuk merangkum sebenarnya kejadian gempa di Ulu Belu ini disebabkan oleh apa,” kata Jeffri.

Jeffri menjelaskan, PT PGE telah melakukan kegiatan pengeboran sejak 2008 dan hingga saat ini telah mengebor sekitar 40 sumur. Namun, berdasarkan catatan aktivitas kegempaan, tidak terdapat aktivitas seismik yang berarti pada periode tersebut. Peningkatan aktivitas gempa justru terjadi dalam sekitar dua tahun terakhir, ketika kegiatan pengeboran perusahaan sudah lebih terbatas.

Menurutnya, PT PGE ke depan akan meningkatkan sosialisasi mengenai mitigasi gempa kepada masyarakat. Perusahaan juga akan berkoordinasi dengan BMKG terkait kemungkinan kebutuhan alat seismograf untuk mendukung pemantauan kegempaan di wilayah Ulu Belu.

Jeffri menambahkan, PT PGE sendiri memiliki perangkat pemantauan kegempaan untuk mengawasi area-area kritis perusahaan, seperti jalur produksi, fasilitas pembangkit listrik tenaga panas bumi, bangunan dan cluster yang harus diantisipasi terhadap berbagai potensi bencana.

“Dengan adanya kegiatan sosialisasi, pemerintah daerah, para ahli, DPRD kami berharap masyarakat Ulu Belu tidak lagi dihantui kekhawatiran berlebihan terkait penyebab gempa. Namun, kewaspadaan dan kesiapsiagaan tetap harus menjadi bagian penting dalam menghadapi potensi bencana di wilayah yang secara geologis memang memiliki risiko kegempaan,” tutupnya. (*)

Berita Terkait

Satlantas Polres Tanggamus Intensifkan Pengamanan Lalu Lintas dan Sebrangkan Pelajar
Resahkan Warga, Polres Tanggamus Bubarkan Balapan Liar di Gisting, Empat Motor Disita Polisi
Hasil Audit AUTJ Sudah di Bupati, Perlemanta Tagih Kejelasan Tindak Lanjut di DPRD Tanggamus
20 Pejabat Lolos Seleksi Administrasi Selter Lima Jabatan Eselon II Pemkab Tanggamus, Ini Daftarnya
Seluruh Penumpang KMP Batumandi di Merak Berhasil Dievakuasi, Tim SAR Fokus Padamkan Api
Defisit Rp79,9 Miliar, KUA-PPAS Tanggamus 2027 Rencanakan Pendapatan Rp1,56 Triliun
Sejumlah Kapolsek di Polres Lampung Tengah dan Kasi Humas Berganti, Ini Daftar Namanya
Kapal KMP Batumandi Terbakar Saat Hendak Sandar di Pelabuhan Merak, Seluruh Penumpang Dievakuasi
Berita ini 108 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 10:00

Satlantas Polres Tanggamus Intensifkan Pengamanan Lalu Lintas dan Sebrangkan Pelajar

Selasa, 20 Oktober 2026 - 22:54

Resahkan Warga, Polres Tanggamus Bubarkan Balapan Liar di Gisting, Empat Motor Disita Polisi

Selasa, 20 Oktober 2026 - 21:27

Hasil Audit AUTJ Sudah di Bupati, Perlemanta Tagih Kejelasan Tindak Lanjut di DPRD Tanggamus

Selasa, 20 Oktober 2026 - 19:43

20 Pejabat Lolos Seleksi Administrasi Selter Lima Jabatan Eselon II Pemkab Tanggamus, Ini Daftarnya

Selasa, 20 Oktober 2026 - 19:40

Seluruh Penumpang KMP Batumandi di Merak Berhasil Dievakuasi, Tim SAR Fokus Padamkan Api

Berita Terbaru