Prioritastv.com, Tanggamus, Lampung – Hujan abu vulkanik akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau melanda sejumlah wilayah di Kecamatan Pematang Sawa, Kabupaten Tanggamus, Lampung, Sabtu (5/9/2026) pagi.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tanggamus, dr. Herry Novrizal, mengatakan pihaknya telah melakukan langkah antisipasi melalui UPTD Puskesmas Martanda menyusul hujan abu vulkanik yang terjadi di wilayah tersebut.
Hujan abu mulai terjadi sekitar pukul 06.00 WIB dengan kondisi cukup tebal dan disertai gempa kecil yang terjadi berulang. Kondisi tersebut terpantau di seluruh wilayah kerja Puskesmas Martanda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Untuk sementara belum ada laporan korban jiwa maupun kerugian material. Kami sudah membuka posko pengobatan dan membagikan masker kepada masyarakat,” kata dr. Herry Novrizal saat dikonfrmasi Media Prioritastv.com.
Menurut Herry, stok masker di Puskesmas Martanda masih mencukupi untuk kebutuhan masyarakat. Hingga saat ini juga belum ada laporan warga yang mengungsi maupun kebutuhan mendesak lainnya.
“Hingga saat ini belum ada kebutuhan mendesak dan belum ada laporan warga yang mengungsi. Situasi masih kami pantau,” ujarnya.
Herry mengimbau masyarakat yang terdampak hujan abu vulkanik untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan.
“Warga yang harus beraktivitas di luar rumah diminta menggunakan masker dan pelindung mata untuk mengurangi paparan abu vulkanik,” imbaunya.
Sementara itu, Camat Pematang Sawa, Edi Yulian, mengatakan pihak kecamatan masih melakukan pemantauan terhadap kondisi di wilayahnya serta berkoordinasi dengan sejumlah instansi terkait.
“Ini kami lagi monitor. Dan koordinasi dengan instansi-instansi terkait,” kata Edi Yulian.
Menurut Edi, pemantauan juga dilakukan hingga ke wilayah pekon dengan melibatkan para kepala pekon untuk mengetahui perkembangan kondisi masyarakat.
“Kami sudah memonitoring dan memantau ke bawah melalui teman-teman kepala pekon,” ujarnya.
Di lapangan, abu vulkanik terdeteksi di wilayah Pekon Karang Brak. Material abu terlihat menempel pada pepohonan, termasuk daun pisang, serta atap-atap rumah warga. Menurut pengamatan warga, jarak pandang di tengah hujan abu di wilayah tersebut sekitar 300 meter.
Dampak hujan abu juga dirasakan warga Pekon Tirom. Heldi, warga setempat, mengatakan wilayahnya turut mengalami hujan debu vulkanik.
Hujan debu juga dilaporkan terjadi di Pekon Teluk Brak.
Kepala Pekon Karang Brak, Hendra Gunawan, mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan selama hujan abu masih terjadi.
Sebelumnya, Gunung Anak Krakatau di kawasan Selat Sunda mengalami erupsi berulang sejak Jumat (4/9/2026) hingga Sabtu (5/9/2026) dini hari.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, Rioboniek Situmorang, mengatakan Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus sejak Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB hingga laporan dibuat.
Berdasarkan pemantauan, erupsi juga tercatat pada pukul 22.03 WIB, 22.11 WIB, 22.42 WIB, 22.53 WIB dan 23.07 WIB. Aktivitas kembali tercatat pada Sabtu pukul 00.01 WIB, dengan visual letusan tidak teramati namun erupsi masih berlangsung.
Sebelumnya pada Jumat pagi, erupsi Gunung Anak Krakatau juga tercatat pada pukul 04.11 WIB, 04.19 WIB, 04.28 WIB dan 05.46 WIB. Pada pukul 05.46 WIB, kolom abu teramati mencapai sekitar 300 meter di atas puncak atau sekitar 457 meter di atas permukaan laut dan bergerak ke arah barat serta barat laut. (*)

Herdi Abas adalah Wartawan Muda yang tersertifikasi Dewan Pers Republik Indonesia. Aktif meliput peristiwa daerah, sosial, dan kriminal dengan pendekatan jurnalistik yang faktual, objektif, dan bertanggung jawab sesuai Kode Etik Jurnalistik. Nomor Sertifikasi Dewan Pers: 31002-LSPR/Wda/DP/XI/2025/12/11/68







