Prioritastv.com, Tanggamus, Lampung – Paska kecelakaan tragis yang melibatkan Bus Trans Putera Fajar yang sedang membawa rombongan study tour pelajar SMK Lingga Kencana Depo di Subang, Jawa Barat, dan menyebabkan 11 orang tewas, pada Sabtu 11 Mei 2024, pro kontra netizen Tanggamus juga muncul.
Polemik terkait keamanan dan relevansi kegiatan ini mencuat di kalangan netizen Tanggamus. Meskipun banyak yang mendukung penghentian kegiatan ini, masih ada pula yang mempertahankan pentingnya pengalaman belajar di luar kelas.
Netizen kontra menilai, kecelakaan yang menimpa bus study tour di Subang telah mengguncang banyak pihak, terutama orang tua siswa. Banyak di antara mereka yang menyuarakan kekhawatiran akan keselamatan anak-anak mereka selama melakukan perjalanan study tour.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebuah akun anonim dengan nama yang tak disebutkan mengajukan pertanyaan kepada netizen Tanggamus, di group Portal Tanggamus pemicu pro kontra tersebut.
“Menurut kalian gimana gaes. Setuju engak, kalo aku pribadi sih iyes, stop study tour, Enggak penting dan membebankan orang tua juga. Semoga semua sekolahan se Tanggamus enggak perlu adakan study tour kemanapun,” tulisnya.
Respon atas postingan anonim tersebut pun bermacam-macam. Beberapa netizen menyatakan setuju dengan penghentian study tour, merasa bahwa kegiatan ini tidak lagi relevan dan hanya membebani orang tua serta berpotensi membahayakan siswa.
“Setujuuuuuu, dengan ada kejadian di berita, orang tua jadi was-was. Lebih baik buat perpisahan di skolah saja tidak usah Jalan2,” tulis salah satu netizen.
Netizen Devika Indri Yani, mengaku setuju, dia beralasan ada banyak korban atas kecelakaan bus study tour.
“Setuju udah banyak korban, tapi baru kali ini yang viral banget, semoga dengan viralnya kejadian ini bisa langsung di hapus study tour,” tulisnya pada kolom komentar.
Namun, di sisi lain, ada juga yang menyoroti manfaat positif dari study tour. Mereka berpendapat bahwa pengalaman belajar di luar kelas dapat memberikan wawasan yang luas dan pengalaman berharga bagi siswa.
“Ya enggak setuju sih, saya pernah sma, saya pernah ngalamin study tour bareng juga, momenya yang lebih mahal daripada ongkos study tournya kok, kalo orang tua pinter anak dari masuk sekolah di suruh ikut nabung jadi pas study tour anak dan ortu enggak bingung, lebih tepatnya masalah study tour gimana ortu pinter persiapkan jauh-jauh hari aja sih,” kata Netizen Akbar Setiawan.
Netizen, lain Dedi Suryadi mengatakan tidak setuju sebab menurutnya yang ingin jalan-jalan study tour adalah peserta didik, cuma rata-rata peserta didik smp sma berdalih atas perintah sekolah guru supaya diperbolehkan orangtua.
“hati-hati pak dalam beropini, seolah-olah di seluruh Tanggamus guru yang pingin jalan-jalan, padahal bisa jadi sebaliknya,” tulisnya.
Di tengah pro kontra ini, Dinas Pendidikan Tanggamus turut dihadapkan pada tekanan untuk mengambil keputusan yang tepat. Namun, keputusan untuk menghentikan atau melanjutkan kegiatan study tour bukanlah hal yang mudah. Perlu dilakukan evaluasi menyeluruh terkait keamanan, manfaat edukatif, serta kebutuhan siswa dan orang tua. (Herdi)







