Prioritastv.com, Bandar Lampung – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Laskar Lampung Indonesia (LLI) Kota Bandar Lampung menuntut Dr. Muhammad Kadafi, S.H., M.H., dan Rusli Bintang untuk meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat Lampung.
Hal ini menyusul keresahan yang timbul akibat kedatangan ratusan orang yang diduga preman ke Kampus Universitas Malahayati yang terjadi kemarin, Minggu 2 Maret 2025, pagi.
Ketua DPC LLI Kota Bandar Lampung, Destra Yudha, S.H., M.Si., menegaskan bahwa tindakan mendatangkan ratusan orang dari luar Lampung ke kampus tersebut telah membuat masyarakat resah dan menimbulkan kegaduhan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Apa yang dilakukan oleh Kadafi dan Rusli Bintang dengan mendatangkan ratusan orang yang diduga preman ke Universitas Malahayati telah membuat masyarakat Lampung resah dan gaduh,” ujar Destra kepada wartawan Senin 3 Maret 2025.
Menurutnya, sebagai figur intelektual dengan kedudukan tinggi, Kadafi dan Rusli Bintang seharusnya menghormati masyarakat Lampung. Oleh karena itu, pihaknya menuntut agar keduanya segera meminta maaf secara terbuka.
“Laskar Lampung menuntut kedua orang tersebut untuk meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat Lampung, khususnya warga Kota Bandar Lampung, atas tindakan yang telah mereka lakukan,” tegasnya.
Selain menuntut permintaan maaf, Laskar Lampung juga berencana melaporkan Muhammad Kadafi ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR-RI. Menurut Destra, sebagai anggota DPR-RI, Kadafi telah mencoreng institusi legislatif dengan tindakan yang dinilai berbau premanisme.
“Dalam waktu dekat, Laskar Lampung akan membuat laporan resmi ke MKD karena tindakan Kadafi telah mencoreng marwah DPR-RI dan meresahkan masyarakat Lampung,” tambahnya.
Diketahui bahwa beberapa hari lalu, ratusan orang yang diduga berasal dari Jakarta dan Indonesia Timur tiba di Bandar Lampung menggunakan empat unit bus dan diturunkan di Universitas Malahayati. Kedatangan mereka memicu keresahan di kalangan masyarakat, khususnya di Kota Bandar Lampung.
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari Muhammad Kadafi maupun Rusli Bintang terkait tuntutan tersebut. (Erwin)







