Prioritastv.com, Tanggamus – Matahari sore perlahan meredup di Taman Soekarno, Kota Agung, Tanggamus, Minggu 9 Maret 2025.
Di sudut taman yang rindang, tampak sekelompok anak duduk beralaskan tikar juga ada duduk di taman asyik membaca buku.
Mereka bukan sekadar mengisi waktu luang, tapi sedang menikmati lapak taman baca gratis yang digagas Maryadi dan Zonizar, S.Pust dari Taman Baca Masarakat (TBM) Literasi Tanggamus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Meski sederhana lapak taman baca ini hadir membawa koleksi buku yang beragam—dari cerita anak, buku pengetahuan, hingga komik edukatif.
Semua bisa dibaca tanpa dipungut biaya. Tak ada aturan ketat, hanya kesepakatan sederhana: baca, nikmati, dan kembalikan agar orang lain bisa ikut belajar.
Maryadi yang merupakan Guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Kagungan Kota Agung Timur mengatakan, bahwa taman baca ini lahir dari keprihatinannya terhadap rendahnya minat baca anak-anak di sekitarnya.
“Saya sering melihat anak-anak lebih banyak bermain gawai. Saya pikir, bagaimana kalau saya membawa buku ke tempat umum agar mereka punya pilihan lain selain bermain ponsel?” kata Maryadi kepada Media Prioritastv.com.
Keinginannya sederhana: menciptakan ruang membaca yang nyaman dan mudah diakses.
Ia pun mulai membawa buku-buku ke taman dan mengajak anak-anak sekitar untuk membaca.
Lambat laun, semakin banyak yang datang, termasuk orang tua yang antusias mendukung.
Di bulan Ramadan ini, lapak taman baca justru semakin ramai. Anak-anak yang biasanya hanya berlarian di sekitar taman kini memilih duduk dan tenggelam dalam buku-buku cerita.
“Sambil menunggu buka puasa, lebih enak baca buku. Enggak terasa tiba-tiba sudah azan Magrib,” kata Rizki, seorang anak yang rutin datang ke taman baca tersebut.
Pemandangan anak-anak yang serius membaca di bangku taman atau duduk melingkar di tikar menjadi momen yang menyenangkan.
Beberapa orang tua yang menemani anak-anak mereka pun turut membuka buku dan ikut larut dalam cerita.
Inisiatif taman baca gratis ini mendapat respons positif dari masyarakat. Beberapa warga bahkan mulai menyumbangkan buku agar koleksi semakin beragam.
Ada harapan bahwa lapak ini bisa berkembang menjadi taman baca permanen dengan fasilitas yang lebih baik.
“Kami sangat mendukung. Semoga ke depan ada lebih banyak buku dan kegiatan lain, seperti dongeng atau kelas menulis,” ujar seorang pengunjung.
Meskipun sederhana, lapak taman baca ini membuktikan bahwa kepedulian satu orang bisa membawa perubahan.
Di tengah kemajuan teknologi, ruang-ruang literasi seperti ini menjadi oase yang mengingatkan bahwa buku tetap memiliki tempat di hati anak-anak.
Di bawah langit senja Kota Agung, suara azan berkumandang. Anak-anak menutup buku mereka dengan senyum puas.
Mereka tahu, di akhir pekan berikutnya, lapak taman baca ini akan kembali menyambut mereka dengan cerita-cerita baru yang siap dijelajahi. (Herdi)







