Prioritastv.com, Tanggamus, Lampung – Film tak hanya menjadi hiburan, tetapi juga alat edukasi yang menyentuh. Hal inilah yang diwujudkan Polres Tanggamus saat menggelar nonton bareng (nobar) film Sayap-Sayap Patah 2 bersama sejumlah tokoh masyarakat di Studio Mall Kartini, Bandar Lampung, pada Minggu, 18 Mei 2025.
Kegiatan tersebut bukan sekadar ajang silaturahmi, tetapi bagian dari strategi edukasi yang dirancang untuk membangun kesadaran kolektif tentang bahaya laten radikalisme dan terorisme yang masih mengintai kehidupan berbangsa.
Film Sayap-Sayap Patah 2 diangkat dari kisah nyata tragedi bom gereja di Samarinda pada tahun 2016. Diperankan oleh Arya Saloka dan Dara Sarasvati, film ini menyuguhkan bukan hanya ketegangan aksi penanganan terorisme, tetapi juga sisi emosional kehidupan para aparat penegak hukum yang menghadapi dilema antara tugas negara dan tanggung jawab sebagai kepala keluarga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kapolres Tanggamus AKBP Rahmad Sujatmiko, melalui Kasi Humas AKP M. Yusuf menegaskan bahwa nobar ini menjadi bagian dari kampanye damai melawan paham ekstremisme.
“Melalui film ini, kami ingin masyarakat lebih memahami pentingnya menjaga persatuan dan menolak segala bentuk ideologi yang mengancam keutuhan bangsa,” jelas Yusuf.
Menurutnya, narasi yang dibangun dalam film tersebut membawa pesan moral yang kuat tentang cinta, pengorbanan, dan keteguhan hati.
Hal ini dinilai efektif untuk membangkitkan empati masyarakat terhadap perjuangan aparat keamanan serta meningkatkan rasa bangga terhadap profesi kepolisian.
“Film ini juga menjadi cara kami membangun kedekatan emosional antara kepolisian dan masyarakat. Karena menjaga negara bukan hanya soal senjata, tapi juga soal pemahaman bersama,” imbuhnya.
Nobar yang digagas Polres Tanggamus ini disambut positif oleh para peserta yang hadir. Selain memberikan edukasi, acara ini juga memperkuat sinergi lintas sektor dalam menciptakan lingkungan yang aman, damai, dan terbebas dari ideologi radikal.
Polres Tanggamus berharap, dengan pendekatan seperti ini, nilai-nilai kebangsaan dan persatuan semakin tertanam dalam kehidupan bermasyarakat. Karena melawan radikalisme bukan hanya soal kekuatan fisik, tetapi juga soal menyentuh hati. (Herdi)







