Prioritastv.com, Pesisir Barat, Lampung – Keributan pada acara orgen tunggal di Pekon Biha, Kecamatan Pesisir Selatan, pada Rabu malam (25/11/2025) kembali memicu kegelisahan masyarakat.
Hiburan rakyat yang seharusnya menjadi sarana rekreasi justru berulang kali berubah menjadi ajang kekerasan seperti video yang beredar luas di media sosial.
Meski belum diketahui penyebab kejadian, terlihat seorang wanita berbaju terang sampai terjatuh ke bawah panggung. Usai bangun ia kembali naik panggung dan menjambak biduan berbaju hitam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mirisnya, setelah berhasil menjambak, malah wanita itu berhasil dipiting hingga kepalanya dibentur-benturkan ke papan diatas panggung.
Tak henti disana, seorang wanita lain berusaha menolong namun berhasil dijegal oleh biduan berbaju hitam hingga sang penolong juga terjatuh.
Terlihat adegan tak patut dicontoh, bahkan ketiga warga berusaha melerai, mereka masih saja saling jambak, hingga akhirnya biduan berbaju hitam dan wanita penolong terjatuh ke bawah panggung.
Ketua Muda Nahdlatul Ulama (NU) Pesisir Barat, Restu Akbari, menilai insiden tersebut sebagai tanda semakin memudarnya nilai luhur yang menjadi identitas masyarakat Pesisir Barat.
Ia menegaskan, perilaku kekerasan yang melibatkan anak muda ini bertentangan dengan slogan daerah “Negeri Para Sai Batin dan Ulama”, terlebih karena banyak anak-anak dan remaja yang menyaksikan langsung tindakan tersebut.
“Kami bersama para kader muda NU mendesak Pemerintah Daerah Pesisir Barat untuk mengambil langkah nyata, mulai dari evaluasi menyeluruh terhadap izin keramaian acara orgen tunggal hingga peningkatan pengawasan di lapangan,” kata Restu dikutip Jumat 28 November 2025.
Restu juga meminta penegakan hukum yang transparan terhadap pelaku keributan, tanpa memandang status maupun kedekatan dengan pihak tertentu.
Selain itu, NU menekankan pentingnya memperkuat kembali peran Sai Batin dan ulama dalam memberikan edukasi moral kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
“Pelibatan tokoh adat dan agama dinilai penting sebagai upaya mengembalikan marwah daerah agar tidak terkikis oleh budaya kekerasan,” tegasnya.
Restu menambahkan kekerasan di acara hiburan harus dihentikan agar Pesisir Barat mampu menjaga identitasnya sebagai Negeri Para Sai Batin dan Ulama, bukan berubah menjadi arena yang menimbulkan keresahan dan dianggap sebagai ‘lelucon’ yang melukai nilai-nilai luhur daerah. (Suroso)







