Solusi Sampah Organik MBG, Pemkab Tanggamus Lirik Budidaya Maggot

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 5 Maret 2026 - 13:37

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Wabup Tanggamus Agus Suranto saat meninjau peternakan maggot di Pekon Banyu Urip, Wonosobo, Rabu 4 Maret 2026 | Sumentri/Media Prioritastv.com.

Wabup Tanggamus Agus Suranto saat meninjau peternakan maggot di Pekon Banyu Urip, Wonosobo, Rabu 4 Maret 2026 | Sumentri/Media Prioritastv.com.

Prioritastv.com, Tanggamus, Lampung – Pemerintah Kabupaten Tanggamus mulai memberi perhatian serius pada pemanfaatan sampah organik melalui budidaya maggot. Hal itu terlihat saat Wakil Bupati Tanggamus Agus Suranto bersama jajaran melakukan kunjungan langsung ke lokasi peternakan maggot di Pekon Banyu Urip, Kecamatan Wonosobo, Rabu 4 Maret 2026.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung bagaimana sampah dapur dari program MBG dimanfaatkan oleh masyarakat menjadi maggot yang bernilai ekonomis.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tanggamus, Kemas Amin, mengatakan pihaknya ingin memastikan bahwa pengolahan sampah dapur yang selama ini menjadi persoalan dapat dikelola secara lebih produktif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kami bersama Pak Wakil Bupati mencoba mengunjungi kegiatan usaha maggot di Pekon Banyu Urip. Di mana informasi yang kami dapat ada upaya pembuatan maggot dari pemanfaatan sampah-sampah dapur MBG,” kata Kemas Amin.

Ia menjelaskan, dari tiga dapur MBG yang ada di Kecamatan Wonosobo, volume sampah yang dihasilkan cukup besar setiap harinya.

“Alhamdulillah sampah-sampah itu bisa terkelola, tidak terbuang ke TPA, dan produk maggot ini selain mengurangi sampah juga bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Kemas Amin menegaskan pemerintah daerah pada prinsipnya siap berkolaborasi dan memberi dukungan terhadap pengembangan usaha tersebut. Namun ia meminta para pelaku budidaya maggot membentuk kelompok resmi agar proses dukungan dari pemerintah dapat berjalan sesuai mekanisme.

“Kami minta dalam bentuk kelompok, minimal KSM. Kami minta apa kebutuhannya. Nanti akan kita lihat dari proposal yang mereka ajukan, akan kita pertimbangkan melalui anggaran APBD ataupun sumber dana lainnya,” tegasnya.

Menurutnya, pengembangan budidaya maggot memiliki potensi besar karena tidak hanya berkontribusi pada pengurangan sampah organik, tetapi juga mampu membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

Terkait kemungkinan pelatihan dan pendampingan, DLH Tanggamus menyatakan masih akan melihat perkembangan kegiatan yang sedang berjalan di Pekon Banyu Urip.

“Insya Allah nanti akan kita lihat progres ke depannya. Yang dilakukan di Pekon Banyu Urip ini paling tidak akan menjadi contoh bagi yang lain,” kata Kemas.

Ia juga membuka peluang kerja sama dengan tenaga ahli dari SUPM yang memiliki kompetensi dalam budidaya maggot untuk menjadi mentor bagi para peternak di Tanggamus.

Sementara itu, Ketua KSM Nusantara, Saucad, mengungkapkan dirinya baru sekitar empat bulan menekuni usaha budidaya maggot yang dimulai sejak adanya program MBG.
Menurutnya, tantangan terbesar dalam usaha tersebut justru berasal dari faktor psikologis masyarakat.

“Tantangan terbesarnya itu masalah jijik. Tidak semua orang mau bergelut dengan sampah. Padahal di dalam sampah itu ada nilai ekonomisnya,” ungkapnya.

Meski demikian, ia mengaku cukup optimistis karena permintaan maggot mulai muncul dari berbagai pihak, baik untuk kebutuhan pakan ternak sendiri maupun dari luar.

“Insya Allah untuk maggot selama ini sudah ada. Teman-teman ada yang minta dua kilo, tiga kilo, empat kilo per minggu,” jelasnya.

Saucad berharap pemerintah daerah dapat memberikan dukungan berkelanjutan agar usaha pengolahan sampah berbasis maggot ini bisa berkembang lebih kuat di masa mendatang.

“Harapan saya itu support dari pemerintah. Karena kita membantu pengurangan sampah yang juga program pemerintah. Kalau tidak ada support, kita akan lemah,” pungkasnya. (*)

Berita Terkait

Ini Dugaan Kasus yang Menjerat Konten Kreator Tanggamus Lampung Rohadi Alcantara
Polres Pringsewu Kerahkan 156 Personel Amankan Masa Kampanye Pilkakon Serentak
Sosok Rohadi Alcantara, Konten Kreator Asal Cukuh Balak Tanggamus yang Dikabarkan Diamankan Polisi
Polres Pringsewu Gandeng RSUD, Buka Peluang Kerja melalui Rekrutmen Satpam
Konten Kreator Rohadi Alcantara Dikabarkan Diciduk Polres Tanggamus Lampung
Viral Keributan di Acara Musik Lampung Barat, Anggota DPRD Prayitno dan Dua Pihak Sepakat Berdamai
Gebrakan Baru Bupati Saleh, Pemkab Tanggamus Hapus Denda PBB-P2, Warga Cukup Bayar Pokok Pajak hingga 31 Desember 2026
Polres Pesisir Barat Gerebek Dua Kampung Narkoba, Dua Terduga Pengedar Diamankan Bersama 67,64 Gram Ganja dan Alat Hisap Sabu
Berita ini 35 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:28

Ini Dugaan Kasus yang Menjerat Konten Kreator Tanggamus Lampung Rohadi Alcantara

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:22

Polres Pringsewu Kerahkan 156 Personel Amankan Masa Kampanye Pilkakon Serentak

Kamis, 22 Oktober 2026 - 15:47

Sosok Rohadi Alcantara, Konten Kreator Asal Cukuh Balak Tanggamus yang Dikabarkan Diamankan Polisi

Kamis, 22 Oktober 2026 - 15:41

Polres Pringsewu Gandeng RSUD, Buka Peluang Kerja melalui Rekrutmen Satpam

Kamis, 22 Oktober 2026 - 15:13

Konten Kreator Rohadi Alcantara Dikabarkan Diciduk Polres Tanggamus Lampung

Berita Terbaru