Prioritastv.com, Tanggamus, Lampung – Pemerintah Kabupaten Tanggamus mulai memberi perhatian serius pada pemanfaatan sampah organik melalui budidaya maggot. Hal itu terlihat saat Wakil Bupati Tanggamus Agus Suranto bersama jajaran melakukan kunjungan langsung ke lokasi peternakan maggot di Pekon Banyu Urip, Kecamatan Wonosobo, Rabu 4 Maret 2026.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung bagaimana sampah dapur dari program MBG dimanfaatkan oleh masyarakat menjadi maggot yang bernilai ekonomis.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tanggamus, Kemas Amin, mengatakan pihaknya ingin memastikan bahwa pengolahan sampah dapur yang selama ini menjadi persoalan dapat dikelola secara lebih produktif.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami bersama Pak Wakil Bupati mencoba mengunjungi kegiatan usaha maggot di Pekon Banyu Urip. Di mana informasi yang kami dapat ada upaya pembuatan maggot dari pemanfaatan sampah-sampah dapur MBG,” kata Kemas Amin.
Ia menjelaskan, dari tiga dapur MBG yang ada di Kecamatan Wonosobo, volume sampah yang dihasilkan cukup besar setiap harinya.
“Alhamdulillah sampah-sampah itu bisa terkelola, tidak terbuang ke TPA, dan produk maggot ini selain mengurangi sampah juga bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Kemas Amin menegaskan pemerintah daerah pada prinsipnya siap berkolaborasi dan memberi dukungan terhadap pengembangan usaha tersebut. Namun ia meminta para pelaku budidaya maggot membentuk kelompok resmi agar proses dukungan dari pemerintah dapat berjalan sesuai mekanisme.
“Kami minta dalam bentuk kelompok, minimal KSM. Kami minta apa kebutuhannya. Nanti akan kita lihat dari proposal yang mereka ajukan, akan kita pertimbangkan melalui anggaran APBD ataupun sumber dana lainnya,” tegasnya.
Menurutnya, pengembangan budidaya maggot memiliki potensi besar karena tidak hanya berkontribusi pada pengurangan sampah organik, tetapi juga mampu membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
Terkait kemungkinan pelatihan dan pendampingan, DLH Tanggamus menyatakan masih akan melihat perkembangan kegiatan yang sedang berjalan di Pekon Banyu Urip.
“Insya Allah nanti akan kita lihat progres ke depannya. Yang dilakukan di Pekon Banyu Urip ini paling tidak akan menjadi contoh bagi yang lain,” kata Kemas.
Ia juga membuka peluang kerja sama dengan tenaga ahli dari SUPM yang memiliki kompetensi dalam budidaya maggot untuk menjadi mentor bagi para peternak di Tanggamus.
Sementara itu, Ketua KSM Nusantara, Saucad, mengungkapkan dirinya baru sekitar empat bulan menekuni usaha budidaya maggot yang dimulai sejak adanya program MBG.
Menurutnya, tantangan terbesar dalam usaha tersebut justru berasal dari faktor psikologis masyarakat.
“Tantangan terbesarnya itu masalah jijik. Tidak semua orang mau bergelut dengan sampah. Padahal di dalam sampah itu ada nilai ekonomisnya,” ungkapnya.
Meski demikian, ia mengaku cukup optimistis karena permintaan maggot mulai muncul dari berbagai pihak, baik untuk kebutuhan pakan ternak sendiri maupun dari luar.
“Insya Allah untuk maggot selama ini sudah ada. Teman-teman ada yang minta dua kilo, tiga kilo, empat kilo per minggu,” jelasnya.
Saucad berharap pemerintah daerah dapat memberikan dukungan berkelanjutan agar usaha pengolahan sampah berbasis maggot ini bisa berkembang lebih kuat di masa mendatang.
“Harapan saya itu support dari pemerintah. Karena kita membantu pengurangan sampah yang juga program pemerintah. Kalau tidak ada support, kita akan lemah,” pungkasnya. (*)

Herdi Abas adalah Wartawan Muda yang tersertifikasi Dewan Pers Republik Indonesia. Aktif meliput peristiwa daerah, sosial, dan kriminal dengan pendekatan jurnalistik yang faktual, objektif, dan bertanggung jawab sesuai Kode Etik Jurnalistik. Nomor Sertifikasi Dewan Pers: 31002-LSPR/Wda/DP/XI/2025/12/11/68







