Prioritastv.com, Tanggamus, Lampung – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tanggamus menggelar Sosialisasi dan Diseminasi Kegempaan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana di Balai Pekon Ngarip, Kecamatan Ulu Belu, Kamis (27/8/2026).
Kegiatan tersebut digelar sebagai upaya BPBD Tanggamus bersama para pakar dan pihak terkait untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat dalam menyikapi fenomena gempa bumi yang dalam beberapa waktu terakhir cukup sering dirasakan di wilayah Kecamatan Ulu Belu.
Hadir sebagai narasumber Iwan Junianto, S.T., M.Eng., Sekretaris BPBD Tanggamus yang mewakili Kepala Pelaksana BPBD Tanggamus Irvan Wahyudi, Andi Kurniawan, Dosen Geofisika Universitas Lampung (Unila), Yoga Era Pamitro dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM, serta perwakilan BMKG.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam kegiatan tersebut, pembahasan juga diarahkan untuk menjawab keresahan masyarakat mengenai dugaan keterkaitan aktivitas pengeboran panas bumi PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) dengan gempa yang terjadi di Ulu Belu.
Sekretaris BPBD Tanggamus, Iwan Junianto, S.T., M.Eng., mengatakan berdasarkan hasil kajian yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, tidak ditemukan hubungan teknis yang signifikan antara gempa swarm yang terjadi di Ulu Belu dengan aktivitas PGE.
“Yang saya tangkap adalah secara teknis tidak ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara gempa yang terjadi di sini, khususnya gempa swarm, dengan aktivitas PGE,” ujar Iwan.
Menurut Iwan, salah satu parameter yang menjadi perhatian dalam kajian adalah jarak antara sumber gempa dengan lokasi aktivitas pengeboran. Berdasarkan pemaparan, sumber gempa berada sekitar 2 hingga 13 kilometer dari lokasi aktivitas tersebut.
Selain jarak, faktor waktu juga menjadi bagian yang diperhatikan. Aktivitas pengeboran sebelumnya tidak menunjukkan korelasi dengan peningkatan aktivitas kegempaan yang terjadi dalam dua tahun terakhir.
Iwan menjelaskan, Kecamatan Ulu Belu memang merupakan wilayah yang memiliki potensi kegempaan karena kondisi geologi dan keberadaan sesar-sesar aktif. Karena itu, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana.
“Ulu Belu ini memang wilayah yang rawan gempa bumi. Selain memang berhubungan dengan sesar yang utama, juga ada beberapa sesar lokal yang kemudian menimbulkan gempa-gempa kecil,” jelasnya.
BPBD Tanggamus juga mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan kondisi konstruksi bangunan. Menurut Iwan, salah satu faktor yang dapat menimbulkan korban saat gempa adalah keruntuhan bangunan.
Masyarakat yang hendak membangun rumah baru diimbau mengikuti ketentuan konstruksi bangunan tahan gempa. Sementara rumah yang sudah berdiri perlu diperiksa dan dipastikan tidak memiliki bagian yang berpotensi membahayakan penghuni ketika terjadi guncangan.
Saat gempa terjadi, masyarakat diminta menerapkan prinsip drop, cover, and hold on, yakni segera merendahkan posisi tubuh, mencari tempat berlindung yang aman, melindungi kepala dan bertahan hingga guncangan berhenti.
“Jangan begitu gempa langsung keluar. Khawatirnya malah jatuh atau terkena barang-barang yang jatuh. Yang penting lindungi kepala dulu,” tegas Iwan.
Melalui Sosialisasi dan Diseminasi Kegempaan, BPBD Tanggamus berharap masyarakat Kecamatan Ulu Belu semakin memahami kondisi kegempaan di wilayahnya dan mampu melakukan langkah penyelamatan yang tepat ketika terjadi gempa bumi.
Masyarakat juga diimbau tetap tenang, tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas sumbernya, serta mengikuti informasi resmi dari instansi berwenang sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan dan mengurangi risiko bencana. (*)

Herdi Abas adalah Wartawan Muda yang tersertifikasi Dewan Pers Republik Indonesia. Aktif meliput peristiwa daerah, sosial, dan kriminal dengan pendekatan jurnalistik yang faktual, objektif, dan bertanggung jawab sesuai Kode Etik Jurnalistik. Nomor Sertifikasi Dewan Pers: 31002-LSPR/Wda/DP/XI/2025/12/11/68







