Prioritastv.com, Kota Metro, Lampung – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti meminta Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) tidak terjebak dalam romantisme sejarah dan nostalgia. Ia mendorong gerakan kepanduan Muhammadiyah itu bertransformasi agar mampu menjawab persoalan generasi muda dan tantangan bangsa.
Pesan tersebut disampaikan Abdul Mu’ti saat membuka Tanwir I Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan di Universitas Muhammadiyah Metro, Kamis, 8/10/2026. Tanwir yang berlangsung pada 8–10 Oktober itu mengusung tema “Meneguhkan Kepanduan Berkemajuan”.
Abdul Mu’ti mengatakan Hizbul Wathan memiliki sejarah panjang dalam perjuangan dan pembangunan Indonesia. Salah satu tokoh yang memiliki latar belakang kepanduan HW adalah Jenderal Sudirman, yang dikenal sebagai pejuang kemerdekaan sekaligus panglima besar Tentara Nasional Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Abdul Mu’ti, nilai-nilai kepanduan turut membentuk patriotisme, nasionalisme, dan keteladanan yang tercermin dalam diri Sudirman. Namun, kebanggaan terhadap sejarah tersebut harus diikuti langkah nyata untuk menjawab persoalan masa kini.
Ia menilai tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini berbeda dengan masa sebelumnya. Generasi Z dan Alpha tumbuh dalam lingkungan yang semakin terbuka serta terpapar beragam pengaruh global.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatiannya adalah kesehatan mental. Abdul Mu’ti menyinggung istilah strawberry generation, yang kerap digunakan untuk menggambarkan generasi muda yang dianggap mudah rapuh ketika menghadapi tekanan.
“Masalah kesehatan mental itu menjadi masalah yang serius di kalangan generasi muda,” ujar Abdul Mu’ti.
Menurut dia, persoalan tersebut tidak cukup dibicarakan dalam forum atau dijadikan bahan pidato. Organisasi kepanduan harus ikut mencari akar masalah dan menghadirkan langkah konkret.
“Kita tidak boleh hanya menjadikan masalah itu sebagai quote atau kutipan dalam pidato-pidato, tapi tidak ada langkah signifikan yang kita lakukan,” katanya.
Selain kesehatan mental, Abdul Mu’ti menyoroti tantangan dalam menumbuhkan nasionalisme di tengah derasnya arus budaya global. Ia meminta HW mengambil peran dalam memperkuat karakter, identitas kebangsaan, dan kecintaan generasi muda terhadap tanah air.
Karena itu, ia mendorong HW memperluas kiprahnya di sekolah dan kampus Muhammadiyah. Menurut dia, yang perlu dikembangkan bukan sekadar organisasi, melainkan semangat kepanduan yang dekat dengan masyarakat dan mampu memberikan solusi.
“HW muda, HW berkemajuan adalah HW yang terbuka, HW yang lebih dekat dengan masyarakat di mana mereka berada dan menjadi kekuatan muda yang memberikan solusi nyata terhadap permasalahan bagi generasi muda itu sendiri dan bagi persoalan bangsa dan negara,” ujar Abdul Mu’ti.
Ia juga mengingatkan para anggota HW agar mengamalkan nilai-nilai dalam Undang-Undang Pandu HW melalui perilaku sehari-hari. Nilai tersebut, antara lain, tercermin dalam kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan.
Abdul Mu’ti mengkritik ruang publik yang masih dipenuhi ujaran kasar, fitnah, dan informasi menyesatkan. Menurut dia, anggota HW harus menunjukkan perilaku yang mencerminkan akhlak mulia.
“HW ini gak boleh begitu. Pikirannya juga harus bersih. Tutur kata yang mulia itu harus senantiasa menjadi akhlak dari semua Pandu HW,” katanya.
Pesan tersebut sejalan dengan upaya Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memperkuat pendidikan karakter. Abdul Mu’ti mengatakan pendidikan tidak cukup berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga harus membentuk kebiasaan baik dan lingkungan yang mendukung perkembangan karakter peserta didik.
Ia menyebut sejumlah program penguatan karakter yang dikembangkan kementeriannya, termasuk tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat serta penciptaan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman.
Abdul Mu’ti juga menyinggung persoalan perundungan di sekolah dan pentingnya keteladanan guru. Menurut dia, pendidik tidak hanya bertugas menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan membangun peradaban.
“Guru yang seharusnya menjadi teladan, digugu dan ditiru, ternyata dinodai oleh oknum-oknum guru yang akhlaknya jauh dari kepribadian seorang guru,” ujarnya.
Ia menegaskan guru tidak cukup berperan sebagai agent of learning, tetapi juga harus menjadi agent of civilization atau agen peradaban. Dalam konteks itu, kegiatan kepanduan dinilai dapat menjadi salah satu sarana pembentukan karakter generasi muda.
Abdul Mu’ti pun mendorong sekolah-sekolah Muhammadiyah mengembangkan Hizbul Wathan sebagai bagian dari upaya memperkuat pendidikan karakter dan kaderisasi.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga membuka ruang bagi HW untuk menyampaikan aspirasi mengenai perubahan Undang-Undang Kepramukaan melalui jalur konstitusional. Menurut dia, aspirasi organisasi dapat diperjuangkan melalui mekanisme dan lembaga resmi.
“Mumpung masih ada waktu, mumpung masih ada kesempatan,” katanya.
Abdul Mu’ti berharap Tanwir I HW tidak berhenti sebagai forum pertemuan dan konsolidasi organisasi. Forum tersebut, menurut dia, perlu menghasilkan gagasan serta langkah strategis yang memperkuat kontribusi HW bagi generasi muda dan bangsa.
Ia berharap Hizbul Wathan mampu melahirkan generasi yang kuat, unggul, beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan mencintai tanah air.
“Kita lahirkan pandu-pandu Hizbul Wathan yang tidak hanya menjadi kader persyarikatan tetapi juga kader umat dan kader bangsa,” ujar Abdul Mu’ti. (*)Prioritastv.com, Kota Metro, Lampung – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti meminta Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) tidak terjebak dalam romantisme sejarah dan nostalgia. Ia mendorong gerakan kepanduan Muhammadiyah itu bertransformasi agar mampu menjawab persoalan generasi muda dan tantangan bangsa.
Pesan tersebut disampaikan Abdul Mu’ti saat membuka Tanwir I Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan di Universitas Muhammadiyah Metro, Kamis, 8/10/2026. Tanwir yang berlangsung pada 8–10 Oktober itu mengusung tema “Meneguhkan Kepanduan Berkemajuan”.
Abdul Mu’ti mengatakan Hizbul Wathan memiliki sejarah panjang dalam perjuangan dan pembangunan Indonesia. Salah satu tokoh yang memiliki latar belakang kepanduan HW adalah Jenderal Sudirman, yang dikenal sebagai pejuang kemerdekaan sekaligus panglima besar Tentara Nasional Indonesia.
Menurut Abdul Mu’ti, nilai-nilai kepanduan turut membentuk patriotisme, nasionalisme, dan keteladanan yang tercermin dalam diri Sudirman. Namun, kebanggaan terhadap sejarah tersebut harus diikuti langkah nyata untuk menjawab persoalan masa kini.
Ia menilai tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini berbeda dengan masa sebelumnya. Generasi Z dan Alpha tumbuh dalam lingkungan yang semakin terbuka serta terpapar beragam pengaruh global.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatiannya adalah kesehatan mental. Abdul Mu’ti menyinggung istilah strawberry generation, yang kerap digunakan untuk menggambarkan generasi muda yang dianggap mudah rapuh ketika menghadapi tekanan.
“Masalah kesehatan mental itu menjadi masalah yang serius di kalangan generasi muda,” ujar Abdul Mu’ti.
Menurut dia, persoalan tersebut tidak cukup dibicarakan dalam forum atau dijadikan bahan pidato. Organisasi kepanduan harus ikut mencari akar masalah dan menghadirkan langkah konkret.
“Kita tidak boleh hanya menjadikan masalah itu sebagai quote atau kutipan dalam pidato-pidato, tapi tidak ada langkah signifikan yang kita lakukan,” katanya.
Selain kesehatan mental, Abdul Mu’ti menyoroti tantangan dalam menumbuhkan nasionalisme di tengah derasnya arus budaya global. Ia meminta HW mengambil peran dalam memperkuat karakter, identitas kebangsaan, dan kecintaan generasi muda terhadap tanah air.
Karena itu, ia mendorong HW memperluas kiprahnya di sekolah dan kampus Muhammadiyah. Menurut dia, yang perlu dikembangkan bukan sekadar organisasi, melainkan semangat kepanduan yang dekat dengan masyarakat dan mampu memberikan solusi.
“HW muda, HW berkemajuan adalah HW yang terbuka, HW yang lebih dekat dengan masyarakat di mana mereka berada dan menjadi kekuatan muda yang memberikan solusi nyata terhadap permasalahan bagi generasi muda itu sendiri dan bagi persoalan bangsa dan negara,” ujar Abdul Mu’ti.
Ia juga mengingatkan para anggota HW agar mengamalkan nilai-nilai dalam Undang-Undang Pandu HW melalui perilaku sehari-hari. Nilai tersebut, antara lain, tercermin dalam kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan.
Abdul Mu’ti mengkritik ruang publik yang masih dipenuhi ujaran kasar, fitnah, dan informasi menyesatkan. Menurut dia, anggota HW harus menunjukkan perilaku yang mencerminkan akhlak mulia.
“HW ini gak boleh begitu. Pikirannya juga harus bersih. Tutur kata yang mulia itu harus senantiasa menjadi akhlak dari semua Pandu HW,” katanya.
Pesan tersebut sejalan dengan upaya Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah memperkuat pendidikan karakter. Abdul Mu’ti mengatakan pendidikan tidak cukup berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga harus membentuk kebiasaan baik dan lingkungan yang mendukung perkembangan karakter peserta didik.
Ia menyebut sejumlah program penguatan karakter yang dikembangkan kementeriannya, termasuk tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat serta penciptaan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman.
Abdul Mu’ti juga menyinggung persoalan perundungan di sekolah dan pentingnya keteladanan guru. Menurut dia, pendidik tidak hanya bertugas menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan membangun peradaban.
“Guru yang seharusnya menjadi teladan, digugu dan ditiru, ternyata dinodai oleh oknum-oknum guru yang akhlaknya jauh dari kepribadian seorang guru,” ujarnya.
Ia menegaskan guru tidak cukup berperan sebagai agent of learning, tetapi juga harus menjadi agent of civilization atau agen peradaban. Dalam konteks itu, kegiatan kepanduan dinilai dapat menjadi salah satu sarana pembentukan karakter generasi muda.
Abdul Mu’ti pun mendorong sekolah-sekolah Muhammadiyah mengembangkan Hizbul Wathan sebagai bagian dari upaya memperkuat pendidikan karakter dan kaderisasi.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga membuka ruang bagi HW untuk menyampaikan aspirasi mengenai perubahan Undang-Undang Kepramukaan melalui jalur konstitusional. Menurut dia, aspirasi organisasi dapat diperjuangkan melalui mekanisme dan lembaga resmi.
“Mumpung masih ada waktu, mumpung masih ada kesempatan,” katanya.
Abdul Mu’ti berharap Tanwir I HW tidak berhenti sebagai forum pertemuan dan konsolidasi organisasi. Forum tersebut, menurut dia, perlu menghasilkan gagasan serta langkah strategis yang memperkuat kontribusi HW bagi generasi muda dan bangsa.
Ia berharap Hizbul Wathan mampu melahirkan generasi yang kuat, unggul, beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan mencintai tanah air.
“Kita lahirkan pandu-pandu Hizbul Wathan yang tidak hanya menjadi kader persyarikatan tetapi juga kader umat dan kader bangsa,” ujar Abdul Mu’ti. (*)
Raditya adalah Wartawan yang aktif meliput peristiwa daerah, sosial, kriminal dan peristiwa dengan pendekatan jurnalistik yang faktual, objektif, dan bertanggung jawab sesuai Kode Etik Jurnalistik di Kota Metro Lampung.







