Prioritastv.com, Lampung – Aktivitas gempa bumi kembali terjadi di wilayah Kabupaten Tanggamus, Lampung, pada Kamis dini hari, 5 November 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat tiga kali gempa dalam rentang waktu sekitar 48 menit dengan magnitudo 1,4 hingga 1,9.
Berdasarkan pemodelan BMKG, guncangan dari aktivitas gempa tersebut terdeteksi di 17 pekon yang tersebar di enam kecamatan di Kabupaten Tanggamus. Tiga pekon tercatat memiliki estimasi intensitas II MMI, sedangkan 14 pekon lainnya berada pada intensitas I MMI.
BMKG memembeberkan, gempa pertama terjadi pukul 01.09.45 WIB dengan magnitudo 1,9. Episenter berada pada koordinat 5,30 derajat Lintang Selatan dan 104,62 derajat Bujur Timur, sekitar 21 kilometer utara Tanggamus, dengan kedalaman 4 kilometer.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selanjutnya, gempa kedua tercatat pukul 01.41.56 WIB dengan magnitudo 1,4. Lokasinya berada di koordinat 5,39 derajat LS dan 104,67 derajat BT, sekitar 11 kilometer utara Tanggamus, dengan kedalaman 1 kilometer.
Gempa ketiga terjadi pada pukul 01.57.33 WIB dengan magnitudo 1,4. Episenternya berada di koordinat 5,39 derajat LS dan 104,67 derajat BT, sekitar 10 kilometer utara Tanggamus, dengan kedalaman 3 kilometer.
Sementara itu, berdasarkan data estimasi guncangan gempa BMKG di tingkat desa yang diperbarui Kamis (5/11/2026) pukul 10.01 WIB, tiga pekon tercatat memiliki intensitas II MMI, yakni Pekon Kelungu di Kecamatan Kota Agung, Pekon Margoyoso di Kecamatan Sumberejo, dan Pekon Talang Beringin di Kecamatan Pulau Panggung.
Adapun 14 pekon lainnya berada pada intensitas I MMI. Rinciannya, Pekon Dadapan, Simpang Kanan, Margodadi, Argopeni, dan Sumber Mulyo di Kecamatan Sumberejo; Penanggungan dan Benteng Jaya di Kecamatan Kota Agung; Sidokaton, Campang, dan Gisting Atas di Kecamatan Gisting; Gunung Megang dan Talang Jawa di Kecamatan Pulau Panggung; Datarajan di Kecamatan Ulu Belu; serta Talang Rejo di Kecamatan Kota Agung Timur.
BMKG menjelaskan, skala Modified Mercalli Intensity (MMI) merupakan satuan untuk mengukur intensitas atau tingkat guncangan gempa berdasarkan dampak yang dirasakan manusia dan kondisi lingkungan.
MMI I umumnya tidak dirasakan oleh manusia, tetapi dapat tercatat melalui instrumen. Sementara MMI II merupakan getaran yang dapat dirasakan oleh sebagian kecil orang, terutama mereka yang sedang diam atau berada di lantai atas bangunan.
BMKG juga menegaskan bahwa informasi estimasi guncangan tersebut merupakan hasil pemodelan menggunakan data observasi akselerometer. Karena itu, angka MMI bukan berarti seluruh warga di pekon yang tercantum melaporkan merasakan gempa.
Aktivitas tersebut kembali mengingatkan pada rangkaian gempa yang mengguncang Tanggamus pada 29 Oktober 2026. Saat itu, BMKG mencatat gempa bermagnitudo 3,7 pada pukul 15.22.47 WIB dengan kedalaman 5 kilometer.
Sekitar 59 detik kemudian, gempa bermagnitudo 4,7 terjadi dengan kedalaman 10 kilometer. Hingga pukul 18.00 WIB pada hari yang sama, BMKG mencatat sebanyak 82 gempa susulan dengan magnitudo berkisar 1,3 hingga 3,5.
Staf Observasi Stasiun Geofisika BMKG Lampung Utara, Novita, mengatakan lokasi ketiga gempa terbaru tersebut masih berada di kawasan yang sama dengan wilayah sumber rangkaian gempa Tanggamus sebelumnya.
“Lokasinya masih sama dengan gempa Tanggamus sebelumnya. Ketiga kejadian ini tercatat di wilayah yang sama,” kata Novita saat dikonfirmasi, Kamis (5/11/2026).
Novita menyebut hingga konfirmasi dilakukan belum ada laporan masyarakat yang merasakan guncangan maupun kerusakan akibat tiga gempa tersebut.
“Tidak ada laporan gempa dirasakan oleh warga maupun kerusakan. Hal itu karena kekuatan gempanya relatif kecil,” ujarnya.
Ia mengimbau masyarakat agar tetap tenang, tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas sumbernya, serta mengikuti perkembangan dan imbauan resmi BMKG apabila terjadi aktivitas gempa berikutnya.
“Jika terjadi gempa, masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas sumbernya. Ikuti perkembangan informasi serta imbauan resmi dari BMKG,” tandasnya.
Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Dr. Daryono, sebelumnya menjelaskan bahwa rangkaian aktivitas tersebut memperlihatkan pola gempa pendahuluan, gempa utama, dan gempa susulan atau foreshock-mainshock-aftershock.
Secara regional, wilayah Tanggamus berada dalam pengaruh Sistem Sesar Sumatra atau Sesar Semangko. Namun, untuk memastikan jalur sesar yang secara spesifik menjadi sumber gempa, diperlukan analisis mekanisme sumber dan relokasi hiposenter.
Meski ketiga gempa terbaru berada di kawasan regional yang sama dengan aktivitas sebelumnya, kesamaan lokasi tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa seluruh kejadian merupakan satu rangkaian susulan dari gempa pada 29 Oktober 2026. (*)

Zulkarnain adalah Wakabiro Provinsi Lampung, Wartawan yang aktif meliput peristiwa daerah, sosial, kriminal dan peristiwa dengan pendekatan jurnalistik yang faktual, objektif, dan bertanggung jawab sesuai Kode Etik Jurnalistik di Provinsi Lampung.







