Prioritastv.com, Tanggamus, Lampung – Warga Pekon Tanjung Agung, Kecamatan Pugung, Kabupaten Tanggamus, mengeluhkan kondisi saluran irigasi Bendungan Way Manak Satu yang mampet. Akibatnya, air meluap hingga ke jalan dan masuk ke rumah warga setelah pintu air bendungan dibuka.
Keluhan tersebut disampaikan Agustina Jarvis Ce melalui unggahan di media sosial Facebook. Ia meminta pihak berwenang, khususnya pengelola Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Bendungan Way Manak Satu, agar memperhatikan kondisi saluran irigasi dan pengaturan pintu air.
“Tolong untuk yang berwenang P3A Bendungan Way Manak Satu Pekon Tanjung Agung, Kecamatan Pugung, Kabupaten Tanggamus, untuk irigasinya diperhatikan karena irigasi mampet dan pintu bendungan tidak ditutup jadi airnya meluap ke rumah warga,” tulis Agustina dalam unggahannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ia juga menyampaikan kritik terhadap pengelolaan irigasi oleh petugas P3A. Menurutnya, apabila tidak sanggup menjalankan tugas, sebaiknya pengelolaan diserahkan kepada pihak lain yang mampu bertanggung jawab.
“Kalau memang sudah tidak sanggup menjadi P3A irigasi Bendungan Way Manak Satu lebih baik mundur, jangan hanya meminta uang ili-ili tapi kerja tidak mau,” lanjutnya.
Unggahan tersebut mendapat tanggapan dari sejumlah warganet. Salah satunya Klabay Pekon yang menyatakan setuju agar petugas yang tidak sanggup menjalankan tugas diganti dengan orang lain.
Warganet lainnya, Yanila Yani, mengingatkan masyarakat agar turut menjaga kebersihan saluran air dengan tidak membuang sampah ke siring, terutama warga yang rumahnya berada di dekat saluran.
“Betul Pak, tapi berikan imbauan kepada masyarakat juga jangan buang sampah di siring, terutama yang rumahnya dekat siring,” tulis Yanila dalam kolom komentar.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Pekon Tanjung Agung, Rahmad, membenarkan peristiwa luapan air terjadi pada malam sebelumnya. Namun, ia menjelaskan bahwa kejadian tersebut dipicu sampah dan sabut kelapa yang terbawa aliran air pertama saat pintu air dibuka.
Menurut Rahmad, material tersebut kemudian terbawa arus dan menyumbat dua gorong-gorong yang berada di lokasi. Kondisi itu diperparah dengan kapasitas gorong-gorong yang dinilai tidak mampu menampung aliran air beserta sampah yang terbawa.
“Iya, memang kejadiannya semalam. Pintu air di atas itu pertama membuka air. Namanya air pertama membuka, itu bercampur sampah. Akhirnya air meluap karena memang ada penyempitan,” jelas Rahmad saat dikonfirmasi, Kamis 5 November 2026.
Ia menerangkan, dua gorong-gorong tersebut merupakan bagian dari pekerjaan pemerintah provinsi. “Gorong-gorongnya kewenangan Provinsi,” ujarnya.
Rahmad menilai, sebelum pintu air dibuka, sampah yang terbawa aliran pertama seharusnya dibersihkan terlebih dahulu untuk menghindari penyumbatan.
“Kalau musim hujan, air pertama itu kan pasti membawa sampah. Harusnya sampah dinaikkan dulu, baru pintu air dibuka. Kalau langsung membuka air, sampah dan air jadi satu masuk ke gorong-gorong. Gorong-gorongnya kecil, tidak tertampung dan akhirnya tertutup sampah sehingga air naik ke jalan,” ungkapnya.
Ia berharap pengelola irigasi dapat lebih memperhatikan kebersihan saluran dan mengantisipasi sampah sebelum membuka pintu air, khususnya saat musim hujan.
“Selain itu, diperlukan koordinasi antara pemerintah pekon, pengelola P3A, dan instansi terkait untuk memastikan saluran irigasi serta gorong-gorong berfungsi dengan baik sehingga kejadian serupa tidak kembali merugikan masyarakat,” tandasnya. (*)

Herdi Abas adalah Wartawan Muda yang tersertifikasi Dewan Pers Republik Indonesia. Aktif meliput peristiwa daerah, sosial, dan kriminal dengan pendekatan jurnalistik yang faktual, objektif, dan bertanggung jawab sesuai Kode Etik Jurnalistik. Nomor Sertifikasi Dewan Pers: 31002-LSPR/Wda/DP/XI/2025/12/11/68







