Menjawab Isu Fatherless: Gerakan Ayah Teladan dan Pentingnya Komunikasi di Keluarga

- Jurnalis

Kamis, 11 Desember 2025 - 00:43

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Iqbal Al Bifary, Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran | Dok. Pribadi.

Iqbal Al Bifary, Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran | Dok. Pribadi.

Oleh : Iqbal Al Bifary
Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran.

Prioritastv.com – Jawa Barat – Dinamika keluarga di Indonesia yang saat ini sedang hangat dibicarakan salah satunya adalah fenomena fatherless. Fenomena ini sering dikaitakan dengan tidak hadirnya sosok ayah di dalam keluarga secara fisik, padahal maknanya jauh lebih luas.

Menurut BKKBN, keluarga adalah kelompok unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami, istri, dan anak dalam suatu ikatan pernikahan yang sah. Komunikasi menjadi faktor tunggal dan bagian penting dalam sebuah keluarga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Seorang ayah bisa saja hadir di rumah setiap hari, tetapi tidak benar-benar hadir dalam relasi dan komunikasi dengan anaknya. Banyak anak tumbuh tanpa kedekatan emosional dengan ayah, tanpa ruang berdialog, tanpa merasa aman untuk bercerita yang menyebabkan anak merasa kesepian, tidak dicintai, tidak diperhatikan, tidak didukung, dan cenderung memiliki hubungan sosial yang tidak baik (Zhou et al., 2024).

Inilah bentuk fatherless yang sering terjadi di Indonesia saat ini. Ibu dianggap lebih banyak berkomunikasi memperhatikan aktivitas anak dalam belajar, sekolah, bermain, dan  tidak anak lebih sering memilih berkomunikasi dengan ibu dalam menyelesaikan masalah yang dialaminya (Wardyaningrum, 2013).

Fenomena ini tentu tidak muncul begitu saja. Sebagian besar berakar pada warisan budaya yang menempatkan peran orientasi gender, artinya keluarga masih menjadikan nilai-nilai tradisional laki-laki dan/ perempuan dalam berintraksi dan membangun hubungan seperti halnya maskulinitas-feminitas (MAS) dari Hofstede.

Ayah sebagai figur pencari nafkah, pemegang otoritas keluarga, bukan sebagai teman bicara atau pengasuh anak. Sementara peran emosional banyak dilimpahkan kepada ibu. Akibatnya, ruang komunikasi antara ayah dengan anak berkurang.

Anak bisa saja merasa sungkan, ayah merasa perannya cukup dengan hadir memenuhi kebutuhan secara materi. Padahal, di era digital dan tantangan sosial yang ada, keberadaan ayah yang hangat, responsif, dan dialogis sangat dibutuhkan anak.

Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) memberikan pendekatan baru tentang kehadiran ayah di dalam pengasuhan keluarga. GATI mengajak para ayah untuk lebih terlibat dalam interaksi di dalam keluarga: tidak hanya hadir sebagai figur kepala keluarga, tetapi juga sebagai pendengar, sahabat, dan figur kedekatan emosional bagi anak.

Gerakan ini muncul dari kesadaran bahwa keluarga yang sehat lahir dari relasi yang sehat, dan relasi yang sehat hanya bisa dibangun melalui komunikasi yang efektif. Karena komunikasi yang baik meningkatkan hubungan internal dalam keluarga (Enjang & Dulwahab, 2018: 29).

Sebagai acuan untuk memahami perubahan yang ingin diwujudkan GATI, Teori Sekma Hubungan Keluarga dari Fitzpatrick memberikan pandangan yang relevan.

Fitzpatrick membagi pola komunikasi keluarga berdasarkan dua orientasi utama: conversation orientation (keluarga dengan skema percakapan tinggi akan selalu ada interaksi dan komunikasi, sebaliknya keluarga dengan skema percakapan rendah tidak banyak menghabiskan waktu untuk berintraksi) dan conformity orientation (keluara dengan skema kepatuhan tinggi memiliki anak yang cenderung berkumpul dengan orantuanya, sedangkan keluarga dengan skema kepatuhan rendah memiliki anggota keluarga yang lebih senang menyendiri/ individualis), (Morissan, 2021: 247). Melalui dua orientasi ini lahirlah empat tipe keluarga: consensual, pluralistic, protective, dan laissez-faire.

Keluarga yang ada pada tipe protective jarang melakukan percakapan, memiliki kepatuhan yang tinggi. Keluarga tipe laissez-faire jarang melakukan percakapan, dan memiliki kepatuhan yang rendah (Morissan, 2021: 249-250).

Ketika komunikasi jarang dilakukan dan hubungan emosional yang minim. Keluarga tipe protective dan laissez-faire rentan mengalami fatherless secara emosional.

Anak tidak terbiasa mengungkapkan perasaan kepada ayah, ayah tidak terbiasa mendengar cerita anak, dan jarak emosional pun terbentuk secara perlahan.

Nilai penting GATI mendorong keluarga menuju tipe consensual atau pluralistic, yaitu keluarga yang membangun komunikasi terbuka dan hubungan dialogis (Morissan, 2021: 248-249).

Para ayah diajak memulai percakapan sederhana dengan anak, meluangkan waktu untuk mendengar cerita anak, serta menunjukkan empati dalam interaksi sehari-hari.

Perubahan kecil ini menciptakan perubahan besar dalam iklim komunikasi keluarga: anak merasa dihargai, ayah merasa semakin dekat, dan hubungan tumbuh lebih hangat.

Lebih dari sekadar aktivitas parenting, GATI berupaya mengubah budaya komunikasi keluarga Indonesia. Gerakan ini memecahkan anggapan bahwa ayah hanya bertugas mencari nafkah, urusan pengasuhan hanyalah tanggung jawab ibu.

GATI menunjukkan bahwa figur ayah diperlukan juga untuk mendengar dan berdialog, anak merasa lebih aman, lebih percaya diri, dan lebih terarah secara emosional. Ketika ruang dialog dibuka, fatherless bukan lagi menjadi fenomena yang umum di keluarga Indonesia. Ia dapat dicegah melalui kehadiran ayah yang sadar, terlibat, dan mau membangun komunikasi yang bermakna.

Gerakan Ayah Teladan Indonesia menjadi langkah penting menuju keluarga Indonesia yang lebih setara, hangat, dan penuh keterhubungan emosional. Membangun keluarga yang kuat tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan materi. Anak-anak membutuhkan kehadiran, didengarkan, dan interaksi yang hangat.

Itulah yang sedang diperjuangkan GATI di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks, inilah saatnya Indonesia menjadikan hadirnya ayah bukan hanya ada di rumah, tetapi benar-benar hadir dalam keluarganya. (*)

Berita Terkait

Satlantas Polres Tanggamus Intensifkan Pengamanan Lalu Lintas dan Sebrangkan Pelajar
Resahkan Warga, Polres Tanggamus Bubarkan Balapan Liar di Gisting, Empat Motor Disita Polisi
Hasil Audit AUTJ Sudah di Bupati, Perlemanta Tagih Kejelasan Tindak Lanjut di DPRD Tanggamus
20 Pejabat Lolos Seleksi Administrasi Selter Lima Jabatan Eselon II Pemkab Tanggamus, Ini Daftarnya
Seluruh Penumpang KMP Batumandi di Merak Berhasil Dievakuasi, Tim SAR Fokus Padamkan Api
Defisit Rp79,9 Miliar, KUA-PPAS Tanggamus 2027 Rencanakan Pendapatan Rp1,56 Triliun
Sejumlah Kapolsek di Polres Lampung Tengah dan Kasi Humas Berganti, Ini Daftar Namanya
Kapal KMP Batumandi Terbakar Saat Hendak Sandar di Pelabuhan Merak, Seluruh Penumpang Dievakuasi
Berita ini 33 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 10:00

Satlantas Polres Tanggamus Intensifkan Pengamanan Lalu Lintas dan Sebrangkan Pelajar

Selasa, 20 Oktober 2026 - 22:54

Resahkan Warga, Polres Tanggamus Bubarkan Balapan Liar di Gisting, Empat Motor Disita Polisi

Selasa, 20 Oktober 2026 - 21:27

Hasil Audit AUTJ Sudah di Bupati, Perlemanta Tagih Kejelasan Tindak Lanjut di DPRD Tanggamus

Selasa, 20 Oktober 2026 - 19:43

20 Pejabat Lolos Seleksi Administrasi Selter Lima Jabatan Eselon II Pemkab Tanggamus, Ini Daftarnya

Selasa, 20 Oktober 2026 - 19:40

Seluruh Penumpang KMP Batumandi di Merak Berhasil Dievakuasi, Tim SAR Fokus Padamkan Api

Berita Terbaru